Latest Entries »

1.1. Arti Manajemen

A. Istilah
manajemen – to manage – control – mengendalikan, menangani, atau mengelola (Indonesia), mengurus (Malaysia).  Manajemen (management) – kata benda, arti:

Pengelolaan, pengendalian, penanganan (managing),

Perlakuan secara terampil (skillfull treatment),
Gabungan A dan B adalah berhubungan dengan pengelolaan suatu perusahaan, rumah tangga, atau sesuatu bentuk kerjasama dalam mencapai suatu tujuan tertentu.  Dus manajemen sebagai ilmu dan seni.

Management (Inggris) dari akar kata “manus” (tangan), berkaitan dengan managerie=berternak=sekumpulan binatang liar yang dikendalikan di dalam pagar=manage (Latin)=mansionaticum=pengelolaan rumah besar.

B. Konsef

Mendapatkan sesuatu melalui kerja orang lain (Management is getting things done through other people) – harus punya rasa tanggung jawab,

Pembuatan keputusan (Management is decision making).

Mempelajari bagaimana menciptakan effectiveness (doing the right thing/yang benar=strategi) secara efficient (doing the things right/dengan benar=taktik).

1.2. Kedudukan Manajemen Dalam Ilmu

5) Komunikasi

4) Pemimpin (Kepemimpinan)

3) Organisasi

1) Administrasi                             2) Manajemen

Cara baca: manajemen inti dari administrasi, organisasi inti dari manajemen, pemimpin/kepemimpinan inti dari organisasi, komunikasi inti dari pemimpin/kepemimpinan  (Prof. Dr. Sondang P. Siagian, dan Dr. Kartini Kartono).

Dalam  Filosofis budaya melayu (Perahu Sampan Kolek=PSK?), Perahu (P), Lancang Kuning (LK), Bulang Linggi (BL), Perahu Naga (PN)
(dikembangkan atas dasar pemikiran teori x dan  y Amerika, teori z Jepang, teori w Korea, temuan Dr. Kelly).

1) Administrasi (keseluruhan proses kerjasama dua orang manusia atau lebih atas dasar rasionalitas untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya) perumpamaan lautan nan luas; diperlukan 2) Manajemen (ilmu dan seni untuk memperoleh sesuatu hasil melalui kerja orang) ketika hendak berlayar menggunakan PSK; PSK= 3) Organisasi (sistem kegiatan kerjasama) bentuk dalam arti wadah adalah perahu, dalam arti  proses interaksi yang serasi antara peran pemukul beduk dan peran tekong dalam diri seorang 4) Pemimpin yang disebut Kepemimpinan (kontribusi 20%) dengan pendayung=SDM/pegawai/masyarakat (kontribusi 80%); Pemimpin (di depan sebagai pemukul beduk memberi motivasi, semangat/contoh/keteladanan melalui bunyi indah yang dihasilkan pemukul peduk= 5) komunikasi (verbal dan non verbal); dibelakang sebagai tekong/pengemudi/pelurus jalan menuju dermaga tujuan.
Bila pemukul beduk tidak pandai meningkah, bunyi beduk tidak indah, pendayung akhirnya bertingkah (4 sikap pengikut: 1. Ritualitas, 2. Inovator (kreatif), 3. Rebel/pemberontak, dan 4. apatis), atau (ajaran Taoisme: bila pemimpin kreatif pengikut cerdas/pintar, bila pemimpin banyak keinginan, pengikut bertingkah, bila pemimpin kaku, pengikut tidak betah, bila pemimpin banyak nuntut, timbul permusuhan/perselisihan di kalangan pengikut); perahu tidak terarah, walaupun  berpindah/bergerak, karena tekong lemah, akhirnya haluan (objective) boleh berubah.  Kapal akan sampai ke dermaga tujuan membawa pemukul beduk dan tekong (leader) bersama-sama pendayung (follower).

1.3. Teori Manajemen

A. Scientific Management (teori insentif, 1903)

Tokoh: Taylor, Fayol, Gulick, Urwick; focus pada produktivitas dan memudahkan pekerjaan; perlu dikembangkan metode kerja dan standard kerja; muncul time and motion studi (studi gerak dan waktu dalam melaksanakan pekerjaan) prinsif-prinsif kerja; setiap orang dalam organisasi (tinggi atau rendah), harus diberi perlengkapan kerja (yang standard) dan insentif yang tinggi  agar hasil kerja berkualitas.

B. Teori hubungan manusia (human relation, tahun 1930)

Tokoh: Follet, Mayo, Reothlisberger; sanggahan teori finansial – untuk meningkatkan produktivitas kerja, hubungan yang dinamis dan harmonis.

C. Behavior science (teori perilaku, 1950)

Tokoh: Chester I Barnard dan Herbert Simon; gabungan dari teori insentif dan teori hubungan manusia (psikologi, sosiologi, ilmu politik dan ekonomi); focus pada prilaku kerja yang kooperatif dalam organisasi formal (works behavior in formal organizational); “produktivitas kerja individu akan membawa produktivitas kerja organisasi dan akan tergantung pada prilaku orang-orang dalam organisasi” – “prilaku orang akan tergantung pada kebutuhannya; untuk meningkatkan produktivitas organisasi, tingkatkan produktivitas individu, berikan insentif sesuai dengan tingkat kebutuhannya.

1.4.  Perkembangan Generasi Manajemen

1.   Generasi I (Jungle Management)

Pekerjaan lebih banyak dikerjakan sendiri; tidak ada catatan tertulis tentang apa yang telah, sedang, dan akan dikerjakan – dicatat dalam ingatan orang-orang yang menjalankan manajemen; pekerjaan dijalankan secara naluriah – mengalir bersama-sama orang yang saling bekerjasama; prinsif doing thing by ourself.

2.   Generasi II (Management by direction)

Manajemen sudah mulai kokoh sebagai sebuah ilmu; pelopornya adalah Frederick Winslow Taylor (1856-1915) – bapak manajemen ilmiah; cirinya penggunaan wewenang untuk mengarahkan anggota organisasi mencapai tujuan – sering disertai penggunaan paksaan; anggota organisasi kurang memiliki kebebasan untuk berkreasi; belum memperhitungkan kepuasaan pelanggan maupun kepuasan anggota organisasi; mulai berkembang teori-teori kepemimpinan; dinamakan management by direction; prinsip doing thing through by the other people.

3.  Generasi III (Management by Targetting/Management by Objective)

Anggota organisasi diberi kebebasan agar memiliki daya inovasi dan kreativitas – kebebasan diimbangi dengan pemenuhan target-target pekerjaan yang ditetapkan secara kuantitatif untuk mencapai tujuan organisasi – dalam kenyataan target pekerjaan terlampau berat akhirnya membelenggu anggota organisasi kemudian menimbulkan stress; pelopor Peter F. Drucker; mengutamakan nilai produktivitas.

4.  Generasi IV (Value Creative Management)

Tokoh: Brian L. Joiner, ; Ciri utama memadukan antara kualitas, pendekatan ilmiah serta kerja tim dalam suatu segitiga yang dimanakan “joiner triangle”; focus pada kualitas produk yang dihasilkan dalam rangka memberikan kepuasan pada pelanggan (customer satisfaction) disertai kepuasan dari para anggota organisasi – kualitas yang dimaksudkan adalah sebagaimana yang didefenisikan oleh para pelanggan; pencapai kualitas dilakukan melalui berbagai pendekatan ilmiah yang berbasis pada penelitian; pendekatan ilmiah merupakan suatu proses pelajar mengajar mengelola organisasi sebagai suatu sistem; pengembangan proses berpikir serta mengambil keputusan berdasarkan data; berangkat dari rasa percaya pada setiap orang dengan meperlakukan manusia berdasarkan harga dirinya, kepercayaan dan rasa hormat serta bekerja atas dasar pendekatan menang-menang (win-win approach); termasuk manajemen kualitas total (total quality management atau TQM).

5. Generasi V  (Knowledge and Human Networking Management)

Tokoh Charles M. Savage bukunya Fith Generation Management – integrating enterprises through human networking, 1990; mengutamakan kualitas melalui kepuasan individu (pelanggan maupun anggota organisasi); ciri utamanya adalah bagaimana mengintegrasikan perusahaan melalui jaringan manusia; unsur manusia di dalam organisasi dihargai sangat tinggi sebagai individu yang memiliki keahlian-keahlian tertentu; individu anggota organisasi bukan hanya sekedar alat produksi.

No.    Unsur    Generasi I    Generasi II    Generasi III    Generasi IV    Generasi V
01.    Sebutan    Jungle Management    Management by direction    Management by targeting (management by objectives)    Value Creative Management    Knowledge and Human Networking Management
02.    Ciri Utama    Doing things by ourself    Doing thing through by the other people    Mengutamakan target kuantitatif    Mengutamakan target kualitatif, kepuasan pelanggan dan pekerja    Mengutamakan keunggulan perorangan dalam bekerjasama jaringan.
03.    Sumber kekuatan    Diri sendiri    pemimpin    Pemimpin dan tim kerja    Nilai-nilai yang disepakati bersama    Jaringan antara profesional
04.    Tipe organisasi    Tidak ada organisasi    Feodal hierarkis    Struktural dan fungsional    Struktural dan fungsional    Jaringan
05.    Tokoh pelopor (antara lain)    Semua orang yang bekerja bersama    Frederick W. Taylor, G. R. Terry    Peter F. Drucker    Brian L. Joiner    Charles M. Savage
06.    Tahun Perkembangan    –    1800-1980    1970-1990    1990-sekarang    1990-sekarang

1.5. Fungsi Manajemen

A. Fungsi-fungsi organik

Mutlak dijalankan oleh manajemen, bila tidak/tidak mampu, lambat/cepat organisasi mati.

B. Fungsi-fungsi Pelengkap

Tidak mutlak, sebaiknya dilaksanakan, karena pelaksanaan fungsi-fungsi itu dengan baik, akan meningkatkan efisiensi, memperlancar usaha pencapaian tujuan dengan efisien, ekonomis dan efektif (contoh: fungsi komunikasi, tata ruang kantor dll).

FUNGSI-FUNGSI ORGANIK

Henri Fayol

Planning (perencanaan)
Organizing (pengorganisasian)
Commanding (pemberian komando)
Controlling (pengawasan)

Luther M. Gullick

Planning (perencanaan)
Organizing (pengorganisasian)
Staffing (pengadaan pegawai)
Directing (pemberian bimbingan)
Coordinating (pengkoordinasian)
Reporting (pelaporan)
Budgeting (penganggaran)

John D. Millet

Directing (pemberian bimbingan)
Facillitating (mempasilitasi)

Harold Koonts & Cyrill O’donnel

Planning (perencanaan)
Organizing (pengorganisasian)
Staffing (pengadaan pegawai)
Directing (pemberian bimbingan)
Controlling (pengawasan)

George R. Terry

Planning (perencanaan)
Organizing (pengorganisasian)
Actuating (penggerakan)
Controlling (pengawasan)

John F. Mee

Planning (perencanaan)
Organizing (pengorganisasian)
Motivating (pemberian motivasi)
Controlling (pengawasan)

Sondang P. Siagian

Perencanaan (planning)
Pengorganisasian (organizing)
Pemberian motivasi (motivating)
Pengawasan (controlling)
Penilaian (evaluating)

Louis A. Allen

Leading (kepemimpinan)
Planning (perencanaan)
Organizing (pengorganisasian)
Controlling (pengawasan)

Prajudi Atmosudirdjo

Planning (perencanaan)
Organizing (pengorganisasian)
Directing/Actuating (penggerakan)
Controlling (pengawasan)

John Robert Beishline

Perencanaan
Organisasi
Komando
Kontrol

William H. Newman

Planning
Organizing
Assembling
Resources
Directing
Controlling

William Spriegel

Planning
Organizing
Controlling

Lyndak F. Urwick

Forecasting
Planning
Organizing
Commanding
Coordinating
Controlling

Winardi

Planning
Organizing
Coordinating
Actuating
Leading
Communication
Controlling
The Liang Gie

Planning
Decision making
Directing
Coordinating
Controlling
Improving

Seluruh ahli sependapat

Perencanaan
Pengorganisasian
Pengawasan

1.6.  Prinsif-Prinsif Manajemen

Devision of work (pembagian pekerjaan)
Spesialisasi di segala bidang untuk mencapai efisiensi dan efektivitas penggunaan pegawai.

Authority and responsibility (kewenangan dan tanggung jawab)
Keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab

Dicipline (disiplin)
Suasana tertib dan teratur, tunduk, patuh dan taat pada norma, peraturan, dan ketentuan dengan ikhlas dan sedang hati tanpa paksaan

Unity of command (kesatuann perintah)
Perintah, laporan dan pertanggungjawaban      kepada seorang pimpinan.

Unity of direction (kesatuan arah)
Seorang kepala dan satu rencana

Subordination of individual interst to general interst (kepentingan umum di atas kepentingan individu)
Kepentingan umum ditempatkan di atas segala kepentingan.

Remuneration of personnel (gaji/upah/penghasilan)
Sistem dan metode harus adil dan memberikan kepuasan maksimal.

Centralization (sentralisasi)
Disentralisasikan atau didesentralisasikan kepada unit-unit tergantung situasi dan kondisi – yang memberikan hasil yang lebih baik.

Scalar chain (jenjang hirarki)
Tingkatan wewenang dan tanggung jawab (tertinggi – terendah) tidak boleh menyimpang (dapat dipersingkat)

10.   Order (ketertiban)
Material dan sosial (tempat tepat bagi sesuatu  dan seseorang)

Equity (keadilan)
Sikap pemimpin yang baik, ramah dan adil, simpati, kesetiaan dan ketaatan bawahan.

Stability of turn over of personnel (stabilitas jabatan pegawai)
Kepastian, kestabilan dalam bekerja

Initiative (prakarsa)
Kesempatan berprakarsa – indikasi adanya kepuasan

Spirit de corps  (Kesetiakawanan)
Team work dan komunikasi yang baik.

1.7.   Unsur-Unsur Manajemen

Man (manusia)
Sangat menentukan; manusia membuat tujuan; melakukan proses kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan; tanpa manusia tidak akan ada proses kerja; titik pusat (central point) manajemen.

Money (uang)
Uang (penting) sebagai alat tukar dan alat ukur nilai sesuatu usaha (besar kecilnya perusahaan diukur dari jumlah perputaran uang).

Mechines (alat-alat)
Peranan mesin sebagai alat bantu kerja, memudahkan melaksanakan pekerjaan, memberikan keuntungan terhadap tenaga kerja, penggunaannya sangat tergantung kepada manusia, mempermudah tercapainya tujuan hidup manusia.

Methods (metode, cara-cara kerja)
Tercapai atau tidaknya tujuan sangat tergantung kepada cara melaksanakannya, dengan cara kerja yang baik akan memperlancar dan mempermudah jalannya pekerjaan.

Materials (bahan-bahan, perlengkapan)
Manajemen ada karena adanya kegiatan manusia secara bersama-sama untuk mengurus material.

Market (pasar)
Fungsi pasar (penting) untuk memasarkan barang-barang hasil produksi sesuatu kegiatan usaha, pasar penting dikuasai, demi kelangsungan proses kegiatan badan usaha atau industri.

1.8.   Kelompok Manajemen

Tingkatan (hierarchie)
a.    Top management,
b.    Middle management
c.    Lower management

Ruang lingkup
d.    General/macro management
e.    Spesial/micro management

Filosofi
f.    Patrimonial management (hubungan keluarga)
g.    Political management (hubungan politik)
h.    Professional management (keahlian)

Macam Materi
Personnal management
Production management
Industrial management
Financial management
Office management
Transportation management
Marketing management
Accounting management
Education management
Sales management

Sistem/penerapan
1.    Scientific management,
2.    Tradisional/konfensional/untung-untungan,
3.    Manajemen bapak,
4.    Manajemen sistematis,
5.    Manajemen demokratis,
6.    Manajemen terbuka,
7.    Manajemen tertutup,
8.    Manajemen dictator/otokrasi,
9.    Manajemen liberal

PERENCANAAN (PLANNING)

2.1.  Arti Perencanaan

Bermacam-macam pengertian yang diberikan oleh penulis mengenai perencanaan, antara lain:

W. H. Newman
Planning is desiding in advance what is to be done (perencanaan adalah penentuan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan)

Louis A. Allen
Planning is the determination of a course of action to achieve a desired result (perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai hasil yang diinginkan).

H. Koontz dan O’Donnel
Planning is the function of a manager which involves the selection from among alternatives of objective, policies, procedures, and programs (perencanaan adalah fungsi seorang manajer yang berhubungan dengan pemilihan berbagai alternatif tujuan, kebijakan, prosedur, dan program).

Sondan P. Siagian
Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan.  Dikenal:

Administrative planning (seluruh unit)
Managerial planning (departemental dan operasional)

George R. Terry
Planning is the selecting and relating of fack and the making and using of assumption regarding the future in the visualization and formulation of proposed activities believed necessary to achieve desired results (perencanaan adalah pemilihan fakta-fakta dan usaha menghubung-hubungkan antara fakta yang satu dengan yang lain, kemudian membuat perkiraan dan peramalan tentang keadaan dan perumusan tindakan untuk masa yang akan datang yang sekiranya diperlukan untuk mencapai hasil yang dikehendaki).

Kesimpulan:
Perencanaan adalah pola perbuatan yang menggambarkan dimuka hal-hal yang akan dikerjakan kemudian.

2.2.   Unsur-Unsur Perencanaan

1.    Rasional (dibuat dengan pemikiran yang rasional; tidak secara khayalan/angan-angan; harus dapat dilaksanakan);

2.    Estimasi (dibuat berdasarkan analisa fakta dan perkiraan yang mendekati/estimate; untuk pelaksanaan yang akan segera dikerjakan);

3.    Preparasi (dibuat sebagai persiapan/pre-parasi;  pedoman/patokan tindakan yang akan dilakukan/bukan untuk yang telah lalu);

4.    Operasional (dibuat untuk dilaksanakan; untuk keperluan  tindakan-tindakan kemudian dan seterusnya;  bukan yang telah lalu).

2.3.   Sifat Perencanaan

Faktual (dibuat berdasarkan fakta/data; memperkirakan kejadian  yang akan datang dalam tindakan pelaksanaan kelak);

Rasional (masuk akal, ilmiah dan dapat dipertanggung jawabkan, bukan angan-angan),

Fleksibel (dapat mengikuti perkembangan kemajuan masyarakat, perubahan situasi dan kondisi; dapat diubah /disempurnakan sesuai keadaan/tidak merubah tujuan),

Kontiniu/berkesinambungan (dipersiapkan untuk tindakan yang terus menerus dan berkelanjutan; tidak untuk sekali tetapi untuk selamanya),

Dialektis (memperkirakan peningkatan dan perbaikan untuk kesempurnaan masa yang akan datang).

2.4.   Fungsi Perencanaan

Interpretasi (dapat menjelasan, menguraikan dan menjabarkan kebijakan umum (general policy)dari bentuk kerjasama (manajemen);

Forcasting (dapat memperhitungkan keadaan dan situasi dimasa yang akan datang);

Koordinasi (sebagai alat koordinasi seluruh kegiatan manajemen);

Ekonomis (mengandung prinsif ekonomis/hemat, agar kegiatan manajemen efisien);

Pedoman (jadi pedoman, patokan atau pegangan pelaksanaan perencanaan dimaksud);

Kepastian (menetapkan dimuka hal-hal yang akan dikerjakan kemudian secara pasti – tidak coba-caba);

Preventive control (alat pengontrol dan penilaian agar terhindar dari penyelewengan dan pemborosan, baik waktu, tenaga, biaya maupun fasilitas manajemen).

2.5.   Prinsif/Asas Perencanaan

Contributeir (membantu tercapainya tujuan manajemen);

Primary activity (kegiatan pertama dari seluruh kegiatan manajemen);

Pervasivitas (mencakupi seluruh kegiatan manajemen, menyeluruh dalam setiap level);

Alternative (adanya alternatif/pilihan – bahan, waktu, tenaga, biaya, dsb);

Efficiency (nilai efisiensi – penghematan dan kerapian);

Limiting factor (factor yang urgen, terang, jelas, tegas dan tidak bertele-tele);
Pleksibilitas (mudah disempurnakan, diperbaiki – disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berubah-ubah);

Strategis (punya siasat/strategi agar diterima atasan, masyarakat maupun anggota untuk dilaksanakan);

2.6.   Macam Perencanaan

1.  Penggunaan
i.    single use plans (sekali pakai)
j.    repeats plan/standing plan (berulang/tetap).
2.  Proses
policy planning
program planning
operasional planning
3.  Jangka Waktu
long range planning (5 – 25 th),
intermediate planning (1 – 5 th),
short range planning (≼ 1 th)
Wilayah/tempat Pelaksanaan
Rural planning
city planning
regional planning
national planning
Materi/objek
personnel planning,
financial planning,
industrial planning,
educational planning,
sosio economic planning,
Segi umum dan khusus
general plans (rencana umum)
special plans (rencana khusus)
over all planning (perencanaan pola kerja umum)
network planning (perencanaan jaringan kerja)

2.7.  Sumber Perencanaan

Kebijakan pucuk pimpinan;
Hasil pengawasan;
Kebutuhan masa depan;
Penemuan-penemuan baru;
Prakarsa dari dalam;
Prakarsa dari luar.

2.8.  Pembuat Perencanaan

Perorangan (tenaga staf);
Unit staff (bagian perencanaan);
Panitia (badan perencanaan);
Kontraktkor (konsultan).

2.9.  Tindakan/langkah-langkah Pokok Perencanaan

Menentukan masalah, tugas, tujuan dan kebutuhan secara jelas;

Mencari informasi secara lengkap yang berhubungan dengan berbagai kegiatan;

Mengorbservasi, meneliti, menganalisis dan mengklasifikasi informasi  yang sudah terkumpul;

Melaksanakan metode perencanaan yang telah dibuat dengan menetapkan pelaksanaan rencana (memilih rencana yang diajukan/memantapkan perencanaan dan mempertimbangkan hambatan-hambatan dengan berbagai kegiatan;

Menetapkan planning alternatif;

Memilih dan memeriksa rencana yang diajukan;

Membuat sintesis (metode/alternatif penyelesaian);
Mengatur urutan dan waktu rencana secara terperinci;

Mengadakan evaluasi (penilaian).

2.10.   Perencanaan Yang Baik

A.    Mengetahui sifat/ciri/prinsip rencana yang baik, sbb:

Mempermudah tercapainya tujuan,
Dibuat oleh orang yang memahami tujuan organisasi,
Dibuat oleh orang yang mendalami teknik perencanaan,
Disertai perincian yang teliti,
Tidak boleh lepas dari pemikiran pelaksanaan,
Bersifat sederhana,
Luwes,
Dalam perencanaan terdapat tempat pengambilan resiko,
Bersifat praktis/pragmatis,
Merupakan forcasting.

B.    Memandang proses perencanaan sebagai suatu rangkaian pertanyaan yang harus dijawab, sbb:

What (apa) = tujuan (tindakan apa yang perlu dilakukan)
When (kapan) = waktu (kapan hal tersebut  perlu dilakukan)
How (bagaimana) = cara mengerjakannya (bagaimana cara melakukan pekerjaan tersebut)
Who (siapa) = tenaga kerja (siapa yang melakukan pekerjaan tersebut)
Where (dimana) = tempat (dimana pekerjaan itu harus dilakukan)
Why (mengapa) = keperluannya (mengapa pekerjaan itu harus dilakukan).

C.    Memandang proses perencanaan sebagai suatu masalah yang harus dipecahkan dengan mempergunakan teknik-teknik ilmiah (scientific techniques of problem solving), melalui langkah:

Mengetahui sifat hakikat masalah yang dihadapi (know the nature of the problem).
Mengumpulkan data (collect data),
Menganalisa data-data (analisis of the data),
Menentukan beberapa alternatif (determination of  several alternatives),
Memilih cara yang terbaik (selection of the seeminingly best way from among alternatives),
Pelaksanaan (execution)
Penilaian hasil (evaluation of results)

PENGORGANISASIAN (ORGANIZING)

1.1.    Arti Organisasi

Etimologi

To organize – to organ – organon (Anglo sexon Greak/Yunani); organum (latin) = alat, bagian, anggota/badan; to organize = menyusun bagian-bagian yang terpisah-pisah menjadi suatu kesatuan sehingga dapat dipergunakan untuk melakukan pekerjaan dalam mencapai tujuan.

Organizing dari kata organism artinya menciptakan suatu struktur dengan bagian-bagian yang diintegrasikan sehingga mampunyuai hubungan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (organisasi = hasil dari pengorganisasian; pengorganisasian = penyusunan tugas kerja dan tanggung jawab; mengorganisasi = menghimpun beberapa orang untuk bersama-sama melakukan pekerjaan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.

James D. Mooney
Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.

Chester I. Barnard
Organisasi adalah suatu sistem dari aktivitas kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.

Suatu sistem kegiatan kerjasama yang dikoordinasikan dengan sadar.

George. R. Terry
Organisasi adalah mengalokasikan seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan antara kelompok kerja dan menetapkan wewenang relatif serta tanggung jawab masing-masing individu yang bertanggung jawab untuk setiap komponen kerja dan menyediakan lingkungan kerja yang tepat dan sesuai.

William H. Newman
Mengorganisasi adalah menggolong-golongkan kegiatan-kegiatan yang perlu untuk melaksanakan rencana-rencana dalam kesatuan-kesatuan administrasi dan menentukan hubungan-hubungan antara pemimpin-pemimpin dan pegawai-pegawai dalam kesatuan-kesatuan kerja.

Staf dosen balai pembinaan administrasi UGM
Organisasi adalah suatu sistem usaha kerja sama dari pada sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama.

Prof. Dr. Sondang Siagian
Organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama untuk sesuatu tujuan bersama dan terikat secara formal dalam persekutuan mana selalu terdapat hubungan antara:  seorang/sekelompok orang yang disebut pimpinan dan seorang/sekelompok orang lain yang disebut bawahan.

Pengorganisasian adalah keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, tanggung jawab dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan.

1.2.    Hakekat Organisasi

Sebagai alat manajemen, organisasi dapat ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu:

1.    Organisasi sebagai wadah (relatif statis),
Tempat dimana kegiatan-kegiatan manajemen dilaksanakan.

2.    Organisasi sebagai proses (dinamis).
Interaction antara orang-orang di dalam organisasi (formal dan informal).

Unsur Organisasi

Kelompok orang,
Kerjasama,
Tujuan bersama

Fungsi Organisasi

Mengatur kerja dan kerjasama yang sebaik-baiknya,
Mencegah keterlambatan dan kesulitan kerja,
Mencegah kesimpangsiruran kerja,
Menentukan pedoman-pedoman kerja.

3.3.  Prinsif Organisasi

Ada dua belas prinsif organisasi, sebagai berikut:

1. Menetapkan tujuan (the objective) dengan jelas, dimengerti, dipahami, diterima, dijiwai setiap orang dalam melaksanakan tugas (agar terjadi penghematan tenaga, material, biaya dan waktu).  Peran tujuan:

a.    pedoman ke arah mana organisasi itu akan dibawa,
b.    Landasan bagi organisasi yang bersangkutan,
c.    menentukan macam aktivitas yang akan dilakukan,
d.    menentukan program, prosedur, KISS ME (Koordinasi, Integrasi, Simplikasi, Sinkronisasi, dan Mekanisasi).
2.  Kesatuan arah (unity of    direction),

3.  Kesatuan perintah (Unity of  commend)

4.  Keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab seseorang atau pelimpahan wewenang (delegation of authority).  Ada tiga jenis:

a.    pelimpahan wewenang ke bawah (dari pejabat yang lebih tinggi ke pejabat yang lebih rendah),
b.    pelimpahan wewenang horizontal (penyerahan kekuasaan antara pejabat yang sederajat),
c.    pelimpahan wewenang ke atas (penyerahan dari pejabat bawahan kepada pejabat atasannya).

Pembagian tugas (distribution of work), pembagian kerja (homogenetise assignment), departementasi (devisionisasi).  Dasar pembagian kerja:

a.    wilayah/territorial (propinsi, kabupaten, kecamatan, kodam, kodim dsb),
b.    jenis produksi (mobil sedan, truk, jip, dsb),
c.    langganan yang dilayani (penyakit dalam, kulit, paru-paru, mata, THT, perusahaan pemerintah, swasta, perorangan, dsb).
d.    fungsi/rangkaian kerja (bagian pembelian, personalia, tata usaha, pemasaran, perundangan, tenun pemintalan, perajutan, pencelupan, dll),
e.    Waktu (kelompok pagi, siang, dan malam),
f.    Jasa yang diberikan (asuransi jiwa, kebakaran, dll),
g.    Alat perlengkapan yang digunakan (STM mesin, listrik, sipil, perkapalan).

Pedoman pembagian kerja, sbb:

jumlah unit organisasi (semaksimal mungkin sesuai kebutuhan),
organisasi mempunyai fungsi bulat dan berkaitan satu sama lain,
pembentukan unit baru hanya dilakukan bila unit yang ada tidak tepat lagi menampung kegiatan yang sangat berbeda,
secara garis besar dalam suatu organisasi dibedakan sesuai dengan aktivitas yang dilakukannya.  Ada 6 (enam) macam sifat organisasi:

a.       unit penetapan kebijakan (melakukan aktivitas penetapan kebijaksanaan umum bagi seluruh organisasi),
b.    unit pimpinan (melakukan aktivitas penerapan kebijakan umum bagi berbagai kegiatan organisasi),
c.       unit operasi (melakukan aktivitas pokok organisasi),
d.    unit penunjang/service unit (melakukan aktivitas yang membantu memperlancar unit operasi dalam melakukan kegiatannya),
e.       unit pengawas (melakukan aktivitas pemeriksaan dan pengawasan kegiatan unit-nit operasi),
f.    unit konsultasi (melakukan aktivitas memberikan bantuan keahlian kepada pimpinan).

6.   Struktur organisasi harus disusun sesederhana mungkin,

7.   Pola dasar organisasi harus relatif permanan,
Adanya jaminan jabatan (security of tenure),
Balas jasa yang diberikan kepada setiap orang harus setimpal dengan jasa yang diberikan,
Penampatan orang yang sesuai dengan keahliannya (the right man in the right place on the right time),
Batas kemampuan pengawasan (spand of control), atau jenjang bertangga (hierarchie).  Tergantung beberapa faktor:

a.    Subjektif (kecakapan dan keahlian, pengalaman, kesehatan, umur, bakat, kepemimpinan seseorang, kepribadian, kedudukan sosial, dan lain-lain),
b.    Objektif (factor di luar diri seseorang, faktor lingkungan: jenis pekerjaan, waktu untuk menyelesaikan pekerjaan, kestabilan organisasi, jarak antara pengawas dan bawahan, banyak sedikitnya pekerjaan pada bawahan atau atasan).

12.    Koordinasi

Arti Koordinasi

Coordinate = menyusun, mengatur, selaras, sejalan, serasi (coordinatie = menyelaraskan, mensejalankan, menyerasikan).

Defenisi (batasan) Koordinasi

Koordinasi adalah sinkronisasi usaha-usaha secara teratur yang ditujukan untuk memberi petunjuk waktu (timing), dan arah pelaksanaan suatu kegiatan kerja, agar dengan demikian dapat dicapai tindakan-tindakan harmonis serta yang disatukan dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

Pengertian Koordinasi

Koordinasi bersangkut paut dengan usaha mempersatukan tindakan-tindakan orang-orang secara harmonis.

Unsur-unsur Koordinasi

a.    kualitas dan kuantitas,
b.    waktu,
c.    penentuan (determinasi) arah

dalam tindakan-tindakan kerja

Pentingnya Koordinasi

Dengan adanya pembagian kerja dalam organisasi (homogenous assigment), maka ada kemungkinan pejabat, pekerja, orang ataupun unit kerja tertentu hanya mementingkan diri atau unit kerjanya saja kurang memperhatikan keberhasilan keseluruhan.

Macam Koordinasi

Vertikal (antara bawahan, unit kerja dengan pihak atasan secara hierarchies atau sebaliknya),
Horizontal (koordinasi fungsional, fungsi dalam sesuatu organisasi kegiatan kerja).

Ciri-Ciri Koordinasi

Dinamis (selalu terdapat perubahan),
Memperkuat tindakan-tindakan tertentu,
Menciptakan kekuatan-kekuatan baru,
Menghilangkan issue (desas-desus),
Memperkecil perbedaan pandangan,
Mencapai kompromi-kompromi.

Ruang Lingkup Koordinasi

Di dalam perseorangan,
Antara perseorangan dengan kelompok,
Antara kelompok di dalam suatu organisasi,
Koordinasi antara organisasi dengan kejadian dunia luar.

Hambatan Koordinasi

Adanya kekuatan yang cenderung memisahkan tindakan mempersatukan,
Orang berusaha agar pekerjaannya terlaksana dengan baik dalam kesatuannya sendiri-sendiri,
Adanya vested interest di dalam kesatuan atau perseorangan.

Usaha Koordinasi

Anggota dapat menerima tujuan yang telah ditetapkan,
Adanya komunikasi antara pemimpin dan anggota/bawahan,
Adanya kesempatan anggota/bawahan untuk mengemukakan ide, saran, usul dan pendapat,
Adanya hak suara kepada anggota sebelum proses berlangsung.

Prinsif Koordinasi

Efisiensi,
Kesatuan arah dan tujuan,
Strategi kerja,
Kesatuan segenap tindakan manajemen dan pelaksana.

Perlunya Koordinasi

Mencegah kesimpangsiuran dalam kegiatan kerja,
Menyadarkan bahwa masing-masing adalah bagian dari keseluruhan,
Mencegah timbulnya tumpukan tugas pada seseorang,
Menghindari kekosongan jabatan,
Menghindari pertentangan-pertentangan.

Alat Koordinasi

Pertemuan resmi/formal (rapat dinas, edaran berantai, membentuk panitia koordinasi, mengangkat pejabat penghubung, melalui alat penghubung: seperti telepon, radio, telegram dll),
Pertemuan tidak resmi/informal (memenuhi undangan, kunjungan rumah, mengucapkan selamat, melawat, dsb).

Koordinasi dan Koperasi

Kooperasi (cooperation) adalah tindakan kerjasama seorang dengan orang lain, sedangkan koordinasi (coordination) adalah kerjasama di dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.

Memelihara Koordinasi

Mengadakan pertemuan resmi (unsur atau unit yang harus dikoordinasikan),
Mengangkat seseorang, tim, panitia (sebagai koordinator).
Membuat buku pedoman (berisikan penjelasan tugas masing-masing unit),
Pimpinan/atasan mengadakan pertemuan-pertemuan informal dengan bawahannya (pemberian bimbingan, konsultasi, dan pengarahan).

3.4.  Bentuk Organisasi

A.   Lini/garis (line organization)
Suatu bentuk organisasi dimana kepala eksekutif (chief executive) dipandang sebagai sumber wewenang tunggal, segala keputusan/kebijakan dan tanggung jawab ada pada satu tangan.

Sifat/ciri-ciri

Organisasi kecil,
Jumlah pegawai sedikit,
Pemilik biasanya menjadi pemimpin tertinggi dalam organisasi,
Hubungan kerja bersifat langsung (face to face relationship),
Spesialisasi yang dibutuhkan rendah,
Anggota organisasi saling kenal mengenal,
Tujuan sederhana,
Alat-alat sederhana,
Struktur organisasi sederhana,
Produksi yang dihasilkan belum beraneka ragam,
Pimpinan organisasi seorang tunggal,
Garis komando ke bawah kuat,

Kebaikan/kelebihan

Proses pengambilan keputusan cepat,
Rasa solidaritas anggota organisasi,
Dapat menjamin disiplin yang kuat/tinggi,
Asas kesatuan komando (unity of commad), tampak menonjol,
Koordinasi relatif mudah dilaksanakan,
Pengawasan secara ketat terhadap kegiatan para pegawai/bawahan dapat dilaksanakan dengan mudah.
Keburukan/kelemahan

Tujuan organisasi didasarkan atas tujuan pribadi,
Kecenderungan pimpinan organisasi bertindak dictator,
Organisasi tergantung pada seseorang,
Kesempatan pengembangan spesialisasi terbatas,
Perluasan organisasi berarti penambahan beban dan tanggung jawab kepala dengan mudah melampau spand of control,
Anggota organisasi terutama bawahan tidak punya kesempatan berkembang.

B.   Organisasi staf (staff organisazition)
Adalah suatu organisasi yang mempunyai hubungan dengan pucuk pimpinan dan mempunyai fungsi memberikan bantuan, baik berupa pemikiran maupun bantuan yang lain demi kelancaran tugas pimpinan dalam mencapai tujuan secara keseluruhan (tidak mempunyai garis komando ke bawah/ke daerah-daerah)

C.  Organisasi lini/garis dan staf (line and staff organization)

Suatu bentuk organisasi dimana pimpinan dibantu oleh staf dan ada kesatuan komando serta memiliki garis komando dari tingkat yang paling atas hingga tingkat yang paling bawah atau dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah.

Staf mempunyai wewenang fungsional, memberikan bantuan/advis/petunjuk, baik berupa pemikiran, tenaga kerja, keuangan, material maupun fasilitas-fasilitas, sarana dan prasarana yang sanggup serta mampu mendukung pelaksanaan tugas pokok organisasi (kepala/pimpinan mempunyai wewenang komando).
Organisasi fungsional (fuctional organization)

Suatu bentuk organisasi dimana bawahan mendapat perintah dari beberapa pejabat yang masing-masing menguasai suatu bidang keahlian tertentu dan bertanggung jawab sepenuhnya atas bidangnya.

Pada bentuk ini pimpinan mempercayakan sepenuhnya kepada para ahli dalam bidang masing-masing.

Sifat/ciri-ciri

Tidak terlalu menekankan pada hirarki structural,
Lebih banyak didasarkan kepada sifat dan macam fungsi yang perlu dijalankan.

Kebaikan/kelebihan

1.    Spesialisasi dipergunakan maksimal,
2.    Solidaritas orang yang menjalankan fungsi yang sama tinggi,
3.    Moral serta disiplin orang yang menjalankan fungsi yang sama tinggi (tanggung jawab atas fungsinya terjamin),
4.    Koordinasi antara orang-orang dalam satu fungsi mudah dijalankan,
5.    Bidang pekerjaan khusus diduduki oleh seorang ahli yang memungkinkan bekerja atas dasar keahlian dan kecintaan akan tugasnya.

Keburukan/kelemahan

Orang terlalu menspesialisasikan diri, sukar mengadakan tour of duty dan tour of area (dapat menimbulkan dispersonalisasi),
Orang yang bergerak dalam satu fungsi tertentu terlalu mementingkan fungsinya, koordinasi menyeluruh sulit dijalankan (koordinasi sulit dilaksanakan),
Keahlian memimpin kurang dapat dijamin,
Asas kesatuan komando (unity of command) sulit dilaksanakan,

D.  Organisasi tipe panitia (committee type of organization)

Adalah suatu bentuk organisasi dimana pimpinan berbentuk kolektif terdiri atas beberapa orang, segala keputusan diambil dalam suatu kourum dan menjadi tanggung jawab bersama.
sifat/ciri-ciri

1.    Pemimpin dan pelaksana dibentuk dalam kelompok-kelompok yang bersifat panitia,
2.    Tugas kepemimpinan dilaksanakan secara kolektif oleh sekelompok orang,
3.    Semua anggota pimpinan mempunyai hak, wewenang dan tanggung jawab yang sama,
4.    Para pelaksana dikelompokkan menurut tugas yang harus dilakukan dalam bentuk task force.

Kebaikan/kelebihan

1.    Keputusan tepat (kolektif),
2.    Tindakan diktatoris sangat kecil,
3.    Usaha kooperatif mudah dibina,
4.    Adanya pertimbangan kelompok dengan jalan perundingan/musyawarah,
5.    Adanya informasi,
6.    Adanya konsolidasi wewenang.

Keburukan/kelemahan

Proses pengambilan keputusan berjalan lambat,
Tidak ada yang dapat diminta pertanggung jawaban lebih,
Perintah datang dari beberapa orang,
Daya kreasi tidak menonjol, pelaksanaan kolektifitas,
Banyak makan waktu dan biaya,
Adanya tendensi ingkar mengingkari tanggung jawab,
Menimbulkan tirani minoritas.

Bentuk Lain Organisasi
(menurut The Liang Gie)

Jumlah orang yang memegang pimpinan,

Bentuk tunggal (dipimpin oleh satu orang);
Bentuk komisi (dipimpin oleh lebih dari satu orang);

Lalu lintas wewenang dan tanggung jawab, serta hubungan kerja pada kesatuan dalam organisasi,
Bentuk lurus,
Bentuk fungsional,
Bentuk lurus dan fungsional.

Bagan Organisasi
(Hendry G. Headges)
Piramide,
Horizontal,
Vertical,
Lingkaran,
Lukisan.

Masing-masing bagan (kecuali bentuk lukisan) dapat dibedakan menurut isi, sebagai berikut.

1.    Struktural,
2.    Fungsional,
3.    Jabatan,
4.    Nama

PENGGERAKAN (ACTUATING)

Arti Penggerakan

George R. Terry
Menempatkan semua anggota kelompok agar bekerja secara sadar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan perencanaan dan pola organisasi.

Prof. Dr. Mr. S. Prajudi Atmosudirdjo
Pengaktifan orang-orang sesuai dengan rencana dan pola organisasi yang telah ditetapkan.

Prof. Dr. H. Arifin Abdurrachman, MPA
Kegiatan manajemen untuk membuat orang-orang lain suka dan dapat bekerja.

Prof. Dr. Sondang S. Siagian, MPA
Penggerakan (motivating) adalah keseluruhan proses pemberian motif bekerja kepada para bawahan sedemikian rupa, sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis.

Istilah Penggerakan
Terdapat beberapa terminology penggerakan dalam bahasa asing, antara lain:

actuating, yaitu penggerakan orang lain secara umum (dari belakang),

directing, yaitu penggerakan orang lain dengan memberikan petunjuk-petunjuk dan pengarahan, (pimpinan terkesan jauh dari pelaksana dan berada di samping),

commanding, yaitu menggerakkan orang lain dengan memberikan perintah atau komando, dan kadang-kadang paksaan (pemimpin terkesan berada di atas),

motivating, yaitu menggerakkan orang lain dengan memberikan instruksi, alasan, bimbingan, nasehat, dan koreksi (pemimpin terkesan berada di tengah-tengah),

staffing, yaitu menggerakkan orang lain dengan menempatkannya pada fungsi yang sesuai ataupun dengan memberikan jabatan tertentu,

leading, yaitu menggerakkan orang lain dengan memberikan contoh dan teladan yang baik.

Teori Penggerakan

Teori Kebutuhan
Kebutuhan adalah suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara suatu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri.

Teori tingkat kebutuhan (hierarchi of needs)
oleh Abraham Maslow, ada 5 (lima) tingkatan, yaitu:

Kebutuhan fisiologis (85%) ,
Kebutuhan untuk makan, minum, perlindungan fisik, bernafas, seksual.

Kebutuhan rasa aman (70%)
Kebutuhan akan perlindungan dari ancaman, bahaya, pertentangan, dan lingkungan hidup.

3. Kebutuhan untuk merasa memiliki (50%)
kebutuhan untuk diterima oleh kelompok, berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai.

4. Kebutuhan akan harga diri (40%)
kebutuhan untuk dihormati, dan dihargai oleh orang lain.

5.    Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri (10%)
Kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill, dan potensi kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan ide-ide, memberi penilaian dan kriteri terhadap sesuatu.

Teori kebutuhan manusia
oleh David Mc Clelland, ada (tiga), yaitu:

Need for achievement (kebutuhan untuk berprestasi).
Yaitu kebutuhan untuk berprestasi yang merupakan refleksi dari dorongan akan tanggung jawab untuk memecahkan masalah.

Need for affiliation (kebutuhan untuk berafiliasi),
Yaitu kebutuhan untuk berafiliasi yang merupakan dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain, berada bersama  orang lain, tidak mau melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.

Need for power (kebutuhan untuk berkuasa)
Yaitu kebutuhan untuk kekuasaan yang merupakan refleksi dari dorongan untuk mencapai otoritas, untuk memiliki pengaruh terhadap orang lain.

Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth)
oleh Alderfer.

Existence needs
Kebutuhan ini berhubungan dengan fisik dari eksistensi pegawai, seperti makan, minum, pakaian, bernafas, gaji, keamanan kondisi kerja, fringe bernefits.

2. Relatedness needs
kebutuhan interpersonal, yaitu kebutuhan dalam berinteraksi dalam lingkungan kerja.

3. Growth needs
Kebutuhan untuk mengembangkan dan meningkatkan pribadi.  Hal ini berhubungan dengan kemampuan dan kecakapan pegawai.

Teori Insting oleh Charles Darwin

Teori ini muncul berdasarkan teori evolusi Charles Darwin, selanjutnya dikembangkan oleh William James, Gigmund Freud, dan Mc Dougall menjadi insting sebagai konsef yang penting dalam psikologi.

Sigmund Freud menempatkan motivasi pada insting agresif dan seksual.  Sedangkan Mc Dougall menyusun daftar insting yang berhubungan dengan semua tingkah laku, seperti rasa jijik, rasa ingin tahu, kesukaan berkelahi, rasa rendah diri, menyatakan diri, kelahiran, reproduksi, lapar, berkelompok, ketamakan, dan membangun.

Teori ini menyimpulkan bahwa motivasi seseorang sangat ditentukan oleh kebutuhan dalam dirinya (drive) dan faktor kebiasaan (habit) dan pengalaman belajar sebelumnya.

Teori Drive oleh Clark L. Hull
Teori ini menyimpulkan bahwa motivasi seseorang sangat ditentukan oleh kebutuhan dalam dirinya (drive) dan factor kebiasaan (habit) dan pengalaman belajar sebelumnya.

Teori lapangan oleh Kurt Lewin
teori ini merupakan pendekatan kognitif untuk mempelajari perilaku dan motivasi.  Teori lapangan lebih memfokuskan pada fikiran nyata seseorang ketimbang pada insting atau habit.  Perilaku merupakan suatu fungsi dari lapangan pada momen waktu dan yang merupakan fungsi dari seseorang dengan lingkungannya.

Teori (x) dan (y)
oleh Douglas Mc Gregor

ada dua pendekatan mengenai tingkah laku dengan menggunakan asumsi-asumsi mengenai sifat manusia, yaitu:

a.    Teori (x), berasumsi:

Umumnya manusia tidak senang bekerja dan berusaha untuk menghidar jika mungkin,
pada umumnya manusia ini harus diawasi dengan ketat, dipaksa, dan diberi hukuman untuk tujuan-tujuan organisasi,
pada umumnya manusia ini tidak mempunyai ambisi, tidak menginginkan tanggung jawab, bahkan lebih sukar untuk diarahkan,
motivasi untuk seseorang menurut teori (x) hanya berlaku lower needs (kebutuhan tingkat dasar/rendah).

b.    Teori (y), dengan asumsi:

bahwa bekerja adalah kodrat manusia,
bahwa manusia itu akan mengawasi dan mengarahkan dirinya sendiri untuk mencapai tujuan organisasi karena sudah ada keterikatan terhadap organisasi,
manusia akan mengawasi dirinya sendiri dan akan berprestasi jika diberikan motivasi yang baik,
motivasi pada teori (y) tidak hanya pada lower need, tetapi juga pada higher needs.

Teknik Penggerakan

jelaskan tujuan kepada setiap orang yang ada dalam organisasi,
usahakan agar setiap orang menyadari, memahami serta menerima baik tujuan tersebut,
jelaskan filsafat yang dianut pimpinan organisasi dalam menjalankan kegiatan-kegiatan organisasi.
jelaskan kebijaksanaan-kebij\aksanaan yang ditempuh oleh pimpinan organisasi dalam usaha pencapaian tujuan,
usahakan agar setiap orang mengerti struktur organisasi,
jelaskan peranan apa yang diharapkan oleh pimpinan organisasi untuk dijalankan oleh setiap orang,
tekankan pentingnya kerjasama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang diperlukan,
perlakukan setiap bawahan sebagai manusia dengan penuh pengertian,
berikan penghargaan serta pujian kepada pegawai yang cakap dan teguran serta bimbingan kepada orang-orang yang kurang mempu bekerja,
yakinkan setiap orang bahwa dengan bekerja baik dalam organisasi tujuan pribadi orang-orang tersebut akan tercapai semaksimal mungkin,

Fungsi Penggerakan

Komunikasi,
Berbicara dengan bawahan, memberi penjelasan dan penerangan, memberikan isyarat, meminta keterangan, memberikan nota, mengadakan pertemuan, rapat briefing, pelajaran, wejangan dan sebagainya.

Human Relation
Memperhatikan nasib bawahan sebagai manusia dan selalu ada keseimbangan antara kepentingan pribadi pegawai, mengembangkan kegembiraan dan semangat kerja yang sebaik-baiknya dan kepentingan umum organisasi.
Leadership
Menunjukkan dan membuat bawahan merasa bahwa mereka dilindungi dan dibimbing, bahwa mereka mempunyai seorang sumber pimpinan dan penerangan dalam menghadapi kesulitan dan masalah pekerjaan maupun pribadi keluarga (inti penggerakan).

Pengembangan eksekutif
Berusaha agar setiap bawahan dapat mengambil keputusan sendiri yang tepat dalam melaksanakan pekerjaan/tugas masing-masing, agar setiap bawahan terbuka dan atas prakarsa sendiri selalu berusaha untuk menekan biaya, memperkuat disiplin, meningkatkan mutu kerja dan sebagainya.

Mengembangkan rasa tanggung jawab
Mengembangkan sikap pada bawahan untuk tidak menerima apabila tidak melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.

Pemberian komando
Memberi perintah, instruksi, direktif, meminta laporan dan pertanggungjawaban, memberi teguran dan pujian.

Mengadakan pengamatan
Atas pekerjaan dan aktivitas bawahan langsung,

Pemeliharaan moral dan disiplin
Mendidik serta memberi contoh kepada bawahan tentang apa yang baik dan patut dilaksanakan, menjaga ketertiban, kesopanan dan kerukunan.

PENGAWASAN (CONTROLLING)

Arti Pengawasan

George R. Terry
Proses penentuan apa yang akan dicapai, yaitu standard, apa yang sedang dihasilkan, yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan dan bilamana perlu mengambil tindakan korektif sehingga pelaksanaan dapat berjalan menurut rencana, yaitu sesuai dengan standard.

Prof. Dr. Mr. Prajudi Atmosudirdjo
keseluruhan aktivitas dan tindakan untuk menjamin atau membuat agar semua pelaksanaan dan penyelenggaraan  berlangsung serta berhasil sesuai dengan yang telah direncanakan, diputuskan dan diperintahkan.

Prof. Dr. Arifin Abdurrachman
proses pengamatan pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.

Drs. M. Manulang
Suatu proses untuk menentapkan pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya dan mengoreksi bila perlu dengan maksud supaya pelaksanaan sesuai dengan rencana semua.

Prof. Dr. Sondang P. Siagian
Proses pengamatan pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.

Sasaran Pengawasan
1.    bahwa melalui pengawasan pelaksanaan tugas-tugas yang telah ditentukan sungguh-sungguh sesuai dengan pola yang telah digariskan dalam rencana,
2.    bahwa struktur serta hirarki organisasi sesuai dengan pola yang telah ditentukan dalam rencana,
3.    bahwa seseorang sungguh-sungguh ditempatkan sesuai dengan bakat, keahlian dan pendidikan serta pengalamannya dan bahwa usaha pengembangan keterampilan  bawahan dilaksanakan secara berencana, kontinu dan sistematis,
4.    bahwa penggunaan alat-alat diusahakan agar sehemat mungkin,
5.    bahwa system dan prosedur kerja tidak menyimpang dari garis-garis kebijakan yang telah tercermin dalam rencana,
6.    bahwa pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang objektif dan resional, dan tidak atas dasar personal likes and dislikeks,
7.    bahwa tidak terdapat penyimpangan dan atau penyelewengan  dalam penggunaan kekuasaan, kedudukan, maupun dan terutama keuangan.

Sifat Pengawasan

Agar fungsi pengawasan mendatangkan hasil yang diharapkan, pimpinan harus mengetahui cirri-ciri suatu proses pengawasan dan berusaha untuk memenuhi sebanyak mungkin ciri-ciri tersebut dalam pelaksanaannya, yaitu:

Fact finding (menemukan fakta),
Pelaksanaan fungsi pengawasan harus menemukan fakta-fakta tentang bagaimana tugas-tugas dijalankan dalam organisasi (factor biaya, tenaga kerja, system dan prosedur kerja, struktur organisasi dan factor psikologis seperti rasa dihormati, dihargai, kemajuan dalam karier dan lain-lain).

2.  Preventif (mencegah)
Proses pengawasan dijalankan untuk mencegah timbulnya penyimpangan dan penyelewengan  dari rencana yang telah ditentukan.

3.  Masa sekarang
pengawasan hanya dapat ditujukan terhadap kegiatan-kegiatan yang kini sedang dilaksanakan.

4. Sebagai Alat

pengawasan hanyalah sekedar alat untuk meningkatkan efisiensi, tidak boleh dipandang sebagai tujuan.

5. Mempermudah tercapainya tujuan

pelaksanaan pengawasan harus mempermudah tercapainya tujuan.

6. Efisien

Jangan sampai pengawasan malahan menghambat usaha peningkatan efisiensi.

7. Menemukan apa yang tidak betul, bukan siapa yang salah.

Pengawasan tidak untuk menentukan siapa yang salah, jika ada ketidakberesan, akan tetapi untuk menemukan apa yang tidak betul.

8. Bersifat membimbing

Pengawasan harus bersifat membimbing agar para pelaksana meningkatkan kemampuannya untuk melakukan yang ditentukan.

Teknik Pengawasan
Pada prinsifnya terdapat dua macam teknik pengawasan, yaitu:

1. Pengawasan langsung (direct control)

Apabila pimpinan organisasi mengadakan sendiri pengawasan terhadap kegiatan yang sedang dijalankan, dapat berbentuk: inspeksi langsung, on the spot observation, on the spot report.

2. Pengawasan tidak langsung (indirect control)

Pengawasan dari jarak jauh, dilakukan melalui laporan yang disampaikan oleh para bawahan, dapat berbentuk: tertulis dan lisan.

Menurut Prof. Dr. Mr. S. Prajudi Atmosudirdjo, ada beberapa teknik pengawasan yang penting, antara lain:

1. control by exeption
pengawasan hanya difokuskan pada penyimpangan yang menonjol.

2. control through costs
pengawasan dilakukan hanya dengan mengawasi pengeluaran biaya.

3. control thought time
pengawasan dilakukan hanya dengan menjaga waktu

4. control through main material
pengawasan dilakukan dengan mengendalikan segala sesuatu mengenai bahan pokok.

5. control through key personel
pengawasan dilakukan dengan mengawasi orang-orang yang memegang jabatan.

6. control through output
pengawasan melalui hasil (tidak mau tau cara untuk memperoleh hasil)

7. control through process or prosedures
pengawasan yang dilakukan melalui pengendalian prosedur dan proses

8. control through audits
pengawasan yang dilakujkan melalui pemeriksaan, verifikasi, audit secara sistematis dan teratur.

9. control through automatic devices
pengawasan dengan mempergunakan alat elektronik, alarm, sinyal dan sebagainya.

Metode Pengawasan

1.  Metode observasi langsung
Metode pengamatan langsung oleh atasan/pimpinan terhadap pelaksanaan kerja yang sedang dilakukan oleh pegawai/petugas.

2.  Metode statistik
Pengamatan dilakukan melalui data yang disusun secara statistik dan grafis (statistik disusun dari data yang sudah diolah sehingga mudah difahami).

3.  Metode laporan
Pengawasan dilakukan setelah diketahui kesalahan, kekeliruan dan penyalahgunaan dari laporan yang diterima.

Laporan lisan

Laporan melalui orang yang ditugaskan untuk mengawasi atau laporan dari pelaksana yang melakukan pekerjaan.

2. Laporan tertulis
Laporan yang disampaikan kepada yang berwenang dan bertanggung jawab, baik oleh pengawas maupun oleh pelaksana secara tertulis.

Fungsi Pengawasan

Ada beberapa macam fungsi pengawasan yang baik, antara lain:

mencegah penyimpangan,
memperbaiki kesalahan/kelemahan,
menindak penyalahgunaan/penyelewengan,
mendinamisasi organisasi dan kegiatan manajemen,
mempertebal rasa tanggung jawab,
mendidik pegawai/pelaksana.

Proses Pengawasan

Proses pengawasan terdiri atas beberapa tindakan, antara lain:

Menetapkan dasar (standard) pengawasan (menentukan apa yang harus dikerjakan, yang hendak dicapai, diharapkan, dituju atau dicita-citakan);
Meneliti, memeriksa dan menilai hasil yang dapat dicapai (meneliti apa yang sedang dilakukan, dikerjakan);
Membandingkan hasil pelaksanaan dengan dasar (standard) yang telah ditetapkan (membandingkan hasil dengan apa yang diharapkan, dicita-citakan sebelumnya);
Memperbaiki penyimpangan, kesalahan, dan kelemahan dengan tindakan koreksi (menerima hasil atau menolak hasil yang dicapai melalui tindakan-tindakan yang telah dilakukan).

Macam Pengawasan

Ada beberapa pengawasan, dapat dilihat dari antara lain:

A. Bidang kerja (objek)
penjualan,
keuangan dan pembiayaan,
material dan perbekalan,
personalia,
kualitas dan mutu,
produksi,
anggaran belanja dan pendapatan,

B. Subjek (petugas pengawasan)
internal,
eksternal,
formal,
informal,
manajerial,
staf,

C. Waktu
preventif (sebelum terjadi kesalahan),
inproses (sedang terjadi kesalahan),
represif (setelah terjadi kesalahan),

D. Lain-lain pengawasan
umum,
khusus,
langsung,
tidak langsung,
mendadak,
teratur,
terus menerus.

Sistem Pengawasan
Menurut Prof. Dr. H. Arifin Abdurrachman, ada beberapa system pengawasan yang terpenting, yaitu:

1. Komparatif
Membandingkan hasil yang diperoleh dengan rencana yang telah disusun sebelumnya, biasanya oleh top manager.

2. Inspektif
Pemeriksaan setempat guna mengetahui keadaan yang sebenarnya.

3. Verifikatif
Pengawasan secara pemeriksaan oleh staf, panitia, komisi yang dibentuk, menyangkut bidang keuangan dan material.

4. Investigatif
Pengawasan yang dilakukan secara penyelidikan untuk mengetahui apa yang tersirat, sukar diketahui melalui pengawasan biasa, untuk membongkar penyelewenangan.

Fungsi manajemen

Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.[rujukan?] Fungsi manajemen pertama kali diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal abad ke-20.[rujukan?] Ketika itu, ia menyebutkan lima fungsi manajemen, yaitu merancang, mengorganisir, memerintah, mengordinasi, dan mengendalikan. Namun saat ini, kelima fungsi tersebut telah diringkas menjadi tiga[rujukan?], yaitu:

  1. Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan perusahaan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan.
  2. Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, pada tingkatan mana keputusan harus diambil.
  3. Pengarahan (directing) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha

[sunting] Sarana manajemen

Man dan machine, dua sarana manajemen.

Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana (tools). Tools merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tools tersebut dikenal dengan 6M, yaitu men, money, materials, machines, method, dan markets.[rujukan?]

Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang berkerja sama untuk mencapai tujuan.

Money atau Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.

Material terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidaki dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.

Machine atau Mesin digunakan untuk memberi kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta menciptakan efesiensi kerja.

Metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan manajer. Sebuah metode daat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam manajemen tetap manusianya sendiri.

Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi menyebarluaskan (memasarkan) produknya. Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen.

[sunting] Prinsip manajemen

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Prinsip manajemen

Prinsip-prinsip dalam manajemen bersifat lentur dalam arti bahwa perlu dipertimbangkan sesuai dengan kondisi-kondisi khusus dan situasi-situasi yang berubah.[rujukan?] Menurut Henry Fayol, seorang pencetus teori manajemen yang berasal dari Perancis, prinsip-prinsip umum manajemen ini terdiri dari[rujukan?]:

  1. Pembagian kerja (Division of work)
  2. Wewenang dan tanggung jawab (Authority and responsibility)
  3. Disiplin (Discipline)
  4. Kesatuan perintah (Unity of command)
  5. Kesatuan pengarahan (Unity of direction)
  6. Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri
  7. Penggajian pegawai
  8. Pemusatan (Centralization)
  9. Hirarki (tingkatan)
  10. Ketertiban (Order)
  11. Keadilan dan kejujuran
  12. Stabilitas kondisi karyawan
  13. Prakarsa (Inisiative)
  14. Semangat kesatuan, semangat korp

I.   Pengertian

Biaya Standar adalah biaya yang ditentukan dimuka, yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu satuan produk atau membiayai kegiatan tertentu, dibawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi dan faktor-faktor lain tertentu.

II.  Prosedur Penentuan Biaya Standar

Biaya Bahan Baku Standar, terdiri atas  :

1.  Masukan fisik yang diperlukan untuk memproduksi sejumlah keluaran fisik tertentu, atau lebih dikenal dengan nama kuantitas standar.

2.  Harga satuan masukan fisik tersebut, atau disebut pula harga standar.

Kuantitas Standar Bahan Baku dapat ditentukan dengan menggunakan :

1.  Penyelidikan teknis.

2.  Analisis catatan masa lalu dalam bentuk  :

a)  Menghitung rata-rata pemakaian bahan baku untuk produk atau pekerjaan yang sama dalam periode tertentu dimasa lalu.

b)  Menghitung rata-rata pemakaian bahan baku dalam pelaksanaan pekerjaan yang paling baik dan yang paling buruk dimasa lalu.

c)  Menghitung rata-rata pemakaian bahan baku dalam pelaksanaan pekerjaan yang paling baik.

Harga yang dipakai sebagai harga standar dapat berupa  :

1.  Harga yang diperkirakan akan berlaku di masa yang akan datang, biasanya untuk jangka waktu 1 tahun.

2.  Harga yang berlaku pada saat penyusunan standar.

3.  Harga yang diperkirakan akan merupakan harga normal dalam jangka panjang.

III. Biaya Tenaga Kerja Standar

Jam Tenaga Kerja Standar dapat ditentukan dengan cara :

1.  Mnghitung rata-rata jam kerja yang dikonsumsi dalam suatu pekerjaan dari Kartu Harga Pokok (Cost Sheet) periode yang lalu.

2.  Membuat test-run operasi produksi dibawah keadaan normal yang diharapkan.

3.  Mengadakan penyelidikan gerak dan waktu dari berbagai kerja karyawan dibawah keadaan nyata yang diharapkan.

4. Mengadakan taksiran yang wajar, yang didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan operasi produksi dan produk

IV. Biaya Overhead Pabrik Standar

Tarif Overhead Standar dihitung dengan membagi jumlah biaya overhead yang dianggarkan pada kapasitas normal dengan kapasitas normal.  Untuk pengendalian BOP dalam sistem biaya standar, perlu dibuat anggaran fleksibel, yaitu anggaran biaya untuk beberapa kisaran (range) kapasitas.  Tarif BOP standar menggabungkan biaya tetap dan variabel dalam satu tarif yang didasarkan pada tingkat kegiatan tertentu.  Sebagai akibatnya dalam tarif ini semua BOP diperlakukan sebagai biaya variabel.  Di lain pihak anggaran fleksibel memisahkan faktor-faktor biaya tetap dan variabel, dan memperlakukan BOP tetap sebagai biaya yang jumlahnya tetap dalam volume tertentu.

V.  Analisis  Penyimpangan Biaya Sesungguhnya Dari Biaya Standar

Penyimpangan biaya sesungguhnya dari biaya standar disebut dengan selisih (variance).  Selisih biaya sesungguhnya dengan biaya standar dianalisis, dan dari analisi ini diselidiki penyebab terjadinya selisih yang merugikan.

VI. Analisis Selisih Biaya Produksi Langsung

Ada 3 model analisis selisih biaya produksi langsung  :

1.  Model Satu Selisih (The One-Way Model)

Dalam model ini, selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya standar tidak dipecah kedalam selisih harga dan selisih kuantitas, tetapi hanya ada satu macam selisih yang merupakan gabungan antara selisih harga dengan selisih kuantitas.

Hasil perhitungan selisih diberi tanda L (selisih Laba) dan R (selisih Rugi).  Analisis selisih dalam model ini dapat digambarkan dengan rumus berikut ini :

St  =  ( HSt  x  KSt )  –  ( HS x KS )

Diketahui  :

St       =    Total Selisih

Hst     =    Harga Standar

Kst     =    Kuantitas Standar

HS    =    Harga Sesungguhnya

KS    =    Kuantitas Sesungguhnya

2.  Model Dua Selisih (The Two-Way Model)

Selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya standar dipecah menjadi 2 macam selisih, yaitu selisih harga dan selisih kuantitas atau efisiensi.

Rumus perhitungan selisih dapat dinyatakan sebagai berikut  :

Perhitungan Selisih Harga                      Perhitungan Selisih Kuantitas

SK  =  ( KSt  –  KS )  x  HSt
SH  =  ( HSt  –  HS )  x  KS

Diketahui  :

SH    =    Selisih Harga                        SK    =   Selisih Kuantitas

Hst     =    Harga Standar                      Kst     =   Kuantitas Standar

HS     =    Harga Sesungguhnya            KS     =   Kuantitas Sesungguhnya

2.  Model Tiga Selisih (The Two-Way Model)

Selisih antara biaya standar dengan biaya sesungguhnya dipecah menjadi 3 macam selisih berikut ini : Selisih Harga, Selisih Kuantitas, Selisih Harga / Kuantitas.

Hubungan harga dan kuantitas sesungguhnya dapat terjadi dengan kemungkinan  berikut ini :

a)  Harga dan Kuantitas Standar masing-masing lebih tinggi atau lebih rendah dari harga dan kuantitas sesungguhnya.

Rumus perhitungan selisih harga dan kuantitas dalam kondisi Harga Standar dan Kuantitas Standar masing-masing  ” Lebih Rendah ” dari Harga Sesungguhnya dan Kuantitas Sesungguhnya, dinyatakan dalam persamaan berikut ini :

SH  =  ( HSt  –  HS )  x  KSt
SK  =  ( KSt  –  KS )  x  HSt

Perhitungan Selisih Harga Perhitungan Selisih Kuantitas

SHK  =  ( HSt  –  HS )  x  ( KSt – KS )

Perhitungan Selisih Gabungan

yang merupakan Selisih Harga /

Kuantitas

Rumus perhitungan selisih harga dan kuantitas dalam kondisi Harga Standar dan Kuantitas Standar masing-masing  ” Lebih Tinggi ” dari Harga Sesungguhnya dan Kuantitas Sesungguhnya, dinyatakan dalam persamaan berikut ini :

SH  =  ( HSt  –  HS )  x  KS
SK  =  ( KSt  –  KS )  x  HS

Perhitungan Selisih Harga Perhitungan Selisih Kuantitas

SHK  =  ( HSt  –  HS )  x  ( KSt – KS )

Perhitungan Selisih Gabungan

yang merupakan Selisih Harga /

Kuantitas

b)  Harga Standar “ Lebih Rendah “ dari Harga Sesungguhnya, namun sebaliknya Kuantitas Standar ” Lebih Tinggi “ dari Kuantitas Sesungguhnya.

Selisih gabungan yang merupakan selisih harga / kuantitas tidak akan terjadi. Dengan demikian perhitungan selisih harga dan kuantitas dalam kondisi seperti ini dengan model 3 selisih dilakukan dengan rumus sebagai berikut :

SH  =  ( HSt  –  HS )  x  KS
SK  =  ( KSt  –  KS )  x  HSt

Perhitungan Selisih Harga Perhitungan Selisih Kuantitas

Selisih Harga / Kuantitas sama dengan nol

c)  Harga Standar “ Lebih Tinggi “ dari Harga Sesungguhnya, namun sebaliknya Kuantitas Standar ” Lebih Rendah “ dari Kuantitas Sesungguhnya.

Selisih gabungan tidak akan terjadi. Perhitungan selisih dengan model 3 selisih dilakukan dengan rumus sebagai berikut :

SH  =  ( HSt  –  HS )  x  KSt
SK  =  ( KSt  –  KS )  x  HS

Perhitungan Selisih Harga Perhitungan Selisih Kuantitas

Selisih Harga / Kuantitas sama dengan nol

CONTOH  SOAL

PT. CAHAYA MENTARI pada tahun 1996 memproduksi produk jadi sebanyak 120.000 unit. Bahan baku yang dibeli dari pemasok sebanyak 750.000 kg, sedangkan yang digunakan dalam proses produksi sebanyak 700.000 kg.

Dalam menghasilkan produk, ditetapkan standar kuantitas bahan baku sebanyak 6 kg / unit dengan standar harga Rp. 2.150,- / kg, lalu ditentukan pula standar efisiensi tenaga kerja langsung 3 jam / unit dengan standar tarif upah Rp. 2.400,- / jam . Namun kenyataan yang terjadi, harga bahan baku sesungguhnya hanya Rp. 2.100,- / kg dengan jumlah jam tenaga kerja sesungguhnya selama 365.000 jam dengan tarif Rp. 2.500, / jam.

Diminta  Carilah  :

1.  Selisih harga bahan baku.

2.  Selisih kuantitas bahan baku.

3.  Selisih efisiensi tenaga kerja langsung.

4.  Selisih Tarif tenaga kerja langsung

5.  Jurnal untuk mencatat gaji dan upah yang harus dibayar serta pengalokasian selisih gaji dan upah dengan mengabaikan pajak atas gaji dan upah

PENYELESAIAN  :

1.  Selisih Harga Bahan Baku :

Selisih Harga  =   ( Harga Ssg – Harga Std )  x  Kuantitas Ssg

=   ( Rp. 2.100  –  Rp. 2.150 )  x  750.000

=   Rp. 37.500.000,-   ( Laba )

2.  Selisih Kuantitas Bahan Baku :

Selisih Kuantitas      =   [ Kuantitas Ssg – Kuantitas Std yang ditetapkan ]  x  Harga Std

=   [ 700.000  –  ( 6  x 120.000 ) ]  x  Rp. 2.150

=   Rp. 43.000.000   ( Laba )

3.  Selisih Efisiensi Jam Tenaga Kerja Langsung :

Selisih Jam Kerja     =  [ Jam kerja Ssg – Jam kerja Std yang ditetapkan ] x Tarif upah Std

=  [ 365.000  –  ( 3  x 120.000 ) ]  x  Rp. 2.400

=   Rp. 12.000.000,-  ( Rugi )

4.  Selisih Tarif  Upah Tenaga Kerja Langsung :

Selisih Tarif Upah    =  [ Tarif upah Ssg – Tarif upah Std ]  x  Jam kerja Ssg

=  [ Rp. 2.500 – Rp. 2.400 ]  x  365.000

=  Rp. 36.500.000,-  ( Rugi )

5.  Jurnal untuk mencatat gaji dan upah yang harus dibayar :

Gaji dan upah  ( 2.500 x 365.000)                    Rp.  912.500.000,-      —

Berbagai perkiraan hutang                                 —        Rp.  912.500.000,-

Jurnal untuk mengalokasikan gaji dan upah serta selisih-selisihnya :

Barang dalam proses ( 360.000 x 2.400 )         Rp. 864.000.000,-       —

Selisih efisiensi TK langsung                              Rp.   12.000.000,-       —

Selisih tarif  TL langsung                                    Rp.   36.500.000,-       —

Gaji dan upah                                                   —        Rp.  912.500.000,-

SOAL-SOAL PRAKTIKUM

KASUS  1

PT.  SINAR  REMBULAN dalam mengolah produknya menggunakan 2 macam bahan baku untuk produk A.  Berikut data-data mengenai bahan baku  X dan Y untuk tahun 1996.

Data-data Harga Standar (STD) dan Harga Sesungguhnya (SSG) :

Bulan Bahan  X Bahan  Y
STD SSG STD SSG
Jan 1.200 1.220 750 770
Feb 1.200 1.250 750 770
Mar 1.225 1.250 750 770
Apr 1.225 1.250 750 770
Mei 1.225 1.250 750 770
Jun 1.225 1.250 750 770
Jul 1.225 1.250 780 810
Ags 1.225 1.250 780 810
Sep 1.225 1.250 780 810
Okt 1.240 1.300 780 810
Nov 1.240 1.300 780 810
Des 1.240 1.300 780 810

Data-data Kuantitas Pemakaian Standar (STD) dan Pemakaian Sesungguhnya (SSG) :

Bulan Bahan  X Bahan  Y
STD SSG STD SSG
Jan 1.500 1.550 2.700 2.850
Feb 1.500 1.550 2.700 2.800
Mar 1.500 1.600 2.700 2.800
Apr 1.500 1.570 2.700 2.825
Mei 1.500 1.570 2.700 2.800
Jun 1.500 1.570 2.700 2.850
Jul 1.500 1.600 2.700 2.825
Ags 1.500 1.600 2.700 2.850
Sep 1.500 1.575 2.700 2.850
Okt 1.500 1.550 2.700 2.870
Nov 1.500 1.600 2.700 2.870
Des 1.500 1.575 2.700 2.870

Diminta  :

1.  Hitung selisih harga bahan baku X dan Y untuk tahun 1996.

2.  Hitung selisih kuantitas bahan baku X dan Y untuk tahun 1996.

JAWABAN  :

KASUS  1

PT.  SINAR  REMBULAN

Tabel  1.  Selisih Harga Bahan Baku     X

Bulan KuantitasSesungguhnya

( Kg )

HargaStandar

( Rp. )

HargaSesungguhnya

( Rp. )

Selisih

( Rp. )

Jan 1.550 1.200 1.220 31.000
Feb 1.550 1.200 1.250 77.500
Mar 1.600 1.225 1.250 40.000
Apr 1.570 1.225 1.250 39.250
Mei 1.570 1.225 1.250 39.250
Jun 1.570 1.225 1.250 39.250
Jul 1.600 1.225 1.250 40.000
Ags 1.600 1.225 1.250 40.000
Sep 1.575 1.225 1.250 39.375
Okt 1.550 1.240 1.300 93.000
Nov 1.600 1.240 1.300 96.000
Des 1.575 1.240 1.300 94.500
J u m l a h 669.125

Tabel  2.  Selisih Harga Bahan Baku  Y

Bulan KuantitasSesungguhnya

( Kg )

HargaStandar

( Rp. )

HargaSesungguhnya

( Rp. )

Selisih

( Rp. )

Jan 2.850 750 770 57.000
Feb 2.800 750 770 56.000
Mar 2.800 750 770 56.000
Apr 2.825 750 770 56.500
Mei 2.800 750 770 56.000
Jun 2.850 750 770 57.000
Jul 2.825 780 810 84.750
Ags 2.850 780 810 85.500
Sep 2.850 780 810 85.500
Okt 2.870 780 810 86.100
Nov 2.870 780 810 86.100
Des 2.850 780 810 85.500
J u m l a h 851.950

2.  Selisih Kuantitas Bahan Baku

Tabel  1.  Selisih Kuantitas Bahan Baku  X

Bulan HargaStandar

( Rp. )

KuantitasStandar

( Kg )

KuantitasSesungguhnya

( Kg )

Selisih

( Rp. )

Jan 1.200 1.500 1.550 60.000
Feb 1.200 1.500 1.550 60.000
Mar 1.225 1.500 1.600 122.500
Apr 1.225 1.500 1.570 85.750
Mei 1.225 1.500 1.570 85.750
Jun 1.225 1.500 1.570 85.750
Jul 1.225 1.500 1.600 122.500
Ags 1.225 1.500 1.600 122.500
Sep 1.225 1.500 1.575 91.875
Okt 1.240 1.500 1.550 62.000
Nov 1.240 1.500 1.600 124.000
Des 1.240 1.500 1.575 93.000
J u m l a h 1.115.625

Tabel  2.  Selisih Kuantitas Bahan Baku  Y

Bulan HargaStandar

( Rp. )

KuantitasStandar

( Kg )

KuantitasSesungguhnya

( Kg )

Selisih

( Rp. )

Jan 750 2.700 2.850 112.500
Feb 750 2.700 2.800 75.000
Mar 750 2.700 2.800 75.000
Apr 750 2.700 2.825 93.750
Mei 750 2.700 2.800 75.000
Jun 750 2.700 2.850 112.500
Jul 780 2.700 2.825 97.500
Ags 780 2.700 2.850 117.000
Sep 780 2.700 2.850 117.000
Okt 780 2.700 2.870 132.600
Nov 780 2.700 2.870 132.600
Des 780 2.700 2.870 132.600
J u m l a h 1.273.050

KASUS  2

PT. GEMERLAP BINTANG pada tahun 1995 memproduksi produk jadi sebanyak 20.000 unit. Bahan baku yang dibeli dari pemasok sebanyak 70.000 kg, sedangkan yang digunakan dalam proses produksi sebanyak 60.000 kg.

Dalam menghasilkan produk, ditetapkan standar kuantitas bahan baku sebanyak 4 kg / unit dengan standar harga Rp. 1.100,- / kg, lalu ditentukan pula standar efisiensi tenaga kerja langsung 2 jam / unit dengan standar tarif upah Rp. 4.600,- / jam . Namun kenyataan yang terjadi, harga bahan baku sesungguhnya hanya Rp. 1.050,- / kg dengan jumlah jam tenaga kerja sesungguhnya selama 41.800 jam dengan tarif Rp. 4.800, / jam.

Diminta   :

1.  Selisih harga bahan baku.

2.  Selisih kuantitas bahan baku.

3.  Selisih efisiensi tenaga kerja langsung.

4.  Selisih Tarif tenaga kerja langsung

5.  Jurnal untuk mencatat gaji dan upah yang harus dibayar serta pengalokasian selisih gaji dan upah.

JAWABAN  :

KASUS  2

PT.  GEMERLAP  BINTANG

1.  Selisih Harga Bahan Baku :

Selisih Harga  =   ( Harga Ssg – Harga Std )  x  Kuantitas Ssg

=   ( Rp. 1.050  –  Rp. 1.100 )  x  70.000

=   Rp. 3.500.000,-  ( Laba )

2.  Selisih Kuantitas Bahan Baku :

Selisih Kuantitas      =   [ Kuantitas Ssg – Kuantitas Std yang ditetapkan ]  x  Harga Std

=   [ 60.000  –  ( 4  x 20.000 ) ]  x  Rp. 1.100

=   Rp. 22.000.000,-  ( Laba )

3.  Selisih Efisiensi Jam Tenaga Kerja Langsung :

Selisih Jam Kerja     =  [ Jam kerja Ssg – Jam kerja Std yang ditetapkan ] x Tarif upah Std

=  [ 41.800  –  ( 2  x 20.000 ) ]  x  Rp. 4.600

=   Rp. 8.280.000,-   ( Rugi )

4.  Selisih Tarif  Upah Tenaga Kerja Langsung :

Selisih Tarif Upah    =  [ Tarif upah Ssg – Tarif upah Std ]  x  Jam kerja Ssg

=  [ Rp. 4.800 – Rp. 4.600 ]  x  41.800

=  Rp.  8.360.000,-  ( Rugi )

5.  Jurnal untuk mencatat gaji dan upah yang harus dibayar :

Gaji dan upah  ( 4.800 x 41.800)                      Rp.  200.640.000,-      —

Berbagai perkiraan hutang                                 —        Rp.  200.640.000,-

Jurnal untuk mengalokasikan gaji dan upah serta selisih-selisihnya :

Barang dalam proses ( 40.000 x 4.600 )           Rp. 184.000.000,-       —

Selisih efisiensi TK langsung                              Rp.     8.280.000,-       —

Selisih tarif  TL langsung                                    Rp.     8.360.000,-       —

Gaji dan upah                                                   —        Rp.  200.640.000,-

KASUS   3

CV.  CAHAYA MENTARI yang berproduksi dengan 2 jenis bahan baku dan memiliki 2 dept. produksi dimana Bahan Baku hanya dipakai pada Dept. I dan BOP pada Dept. II.  Biaya standar untuk menentukan biaya produksi, berdasarkan data-data sebagai berikut  :

a.  Harga bahan distandarkan Rp. 100,-/kg untuk bahan A dan Rp. 400,-/kg untuk bahan B ditambah biaya penanganan masing-masing 10 %.  Untuk membuat satu unit produk jadi diperlukan 2,5 kg bahan A dan 2 kg bahan B.

b.  Jumlah tenaga kerja yang menangani langsung produksi adalah 40 orang di Dept. I dan 100 orang di Dept. II, dimana diperkirakan tiap pekerja bisa bekerja efektif 35 jam / minggu.  Upah dan gaji total per minggu Dept. I  Rp. 280.000 dan Dept. II  Rp. 875.000,- ditambah 20 % sebagai cadangan premi lembur dan premi lain-lain.  Dalam Dept. I  bahan diolah selama 2,5 jam dan dalam Dept. II selama 2 jam.

c.  Kapasitas normal produksi adalah 1.000 unit ( 100 % ) atau 4.000 jam mesin dengan batas terendah produksi 80 % dan kapasitas penuh 120 %.  BOP yang terdiri dari overhead tetap dan variabel pada kapasitas normal adalah :

Variabel Tetap

Upah pegawai              Rp.  320.000,-             –

Bahan pembantu           Rp.  140.000,-             –

Lain-lain                       Rp.    20.000,-             –

Penyusutan Mesin                     –          Rp.  190.000,-

Listrik                                       –          Rp.    50.000,-

Pemeliharaan, dll           –          Rp.    80.000,-

Rp.  480.000,- Rp.  320.000,-

Dari data-data tersebut anda diminta untuk menyusun biaya standar per unit produk jadi dan fleksible budget untuk BOP pada kapasitas 80 %, 100 %, 120 %.

JAWABAN  :

KASUS  3

PT.  CAHAYA MENTARI

•  Penyusunan Biaya Standar Bahan Baku per Unit Produk  :

Bahan  A Bahan  B

1.  Harga bahan per unit (kg)                Rp.  100,-                    Rp.  400,-

2.  Biaya penanganan bahan                     10 %                              10 %

3.  Kebutuhan bahan                               2,5  kg                           2  kg

4.  Harga standar bahan per kg Rp.  110,-                    Rp.  440,-  *)

5.  Biaya standar bahan             Rp.  275,-  **) Rp. 1.100,-

6.  Biaya standar bahan baku

(Rp. 275,-  +  Rp 1.100,- ) =  Rp. 1.375,-

*)      Rp. 400 + ( 10 % x 400 ) = Rp. 440,-

**)    2,5 kg  x  Rp. 110,-  =  Rp. 275,-

•  Penyusunan Biaya Standar Upah Langsung per Unit Produk  :

Dept.  I Dept.  II

1.  Tenaga Kerja                                                       40                              100

2.  Jam kerja per minggu / orang                                35                               35

3.  Jumlah jam kerja / minggu  (1 x 2)                      1.400                           3.500

4.  Jumlah biaya per minggu                              Rp. 280.000,-              Rp. 875.000,-

5.  Biaya per jam  (4 : 3)                                       Rp. 200,-                     Rp. 250,-

6.  Cadangan premi 20 %                                     Rp.   40,-                     Rp.   50,-

7.  Biaya per jam total (5 + 6)                               Rp. 240,-                     Rp. 300,-

8.  Kebutuhan jam kerja                                            2,5                                2

9.  Biaya standar upah

(2, x Rp. 240) + (2 x 300) = Rp. 1.200,-/unit

•  Penyusunan Biaya Standar Overhead Pabrik per Unit Produk  :

Jenis 80 % 100 % 120 %
Biaya Total (Rp.) Per jam (Rp.) Total (Rp.) Per jam (Rp.) Total (Rp.) Per jam (Rp.)
Biaya variabel :Upah pengawas

Bahan. pembantu

Lain-lain

256.000

112.000

16.000

80

35

5

320.000

140.000

20.000

80

35

5

384.000

168.000

24.000

80

35

5

384.000 120 480.000 120 576.000 120
Biaya Tetap :Peny. mesin

Listrik

Pemeliharaan

190.000

50.000

80.000

190.000

50.000

80.000

190.000

50.000

80.000

320.000 320.000 320.000
Jumlah Biaya 704.000 800.000 896.000

Biaya standar overhead pabrik dibuat pada kapasitas normal dimana :

Rp. 480.000                                                     Rp. 320.000

BOP / jam  =  —————–  =  Rp. 120,-      BOP Tetap =  —————–  =  Rp. 80,-

4000                                                                 4.000

Overhead Standar / jam  =  Rp. 120  +  Rp. 80  =  Rp.  200

Biaya overhead pabrik  =  Rp. 200  x  4  =  Rp. 800,-

•  Biaya Standar Produksi per unit :

Bahan Baku                              Rp. 1.375,-

Upah Langsung             Rp. 1.200,-

Overhead Pabrik                      Rp.    800,-

Biaya Produksi Standar        Rp. 3.375,- / unit

Sistem Biaya
1. Pengertian Biaya
The Commite on Cost Consepts and Standards of The American Accounting Association memberikan definisi untuk istilah Cost sebagai berikut :
“Cost is foregoing measured in monetary terms incurred or potentially to be incurred to achieve a specific objective” yang berarti biaya merupakan pengeluaran-pengeluaran yang diukur secara terus-menerus dalam uang atau yang potensial harus dikeluarkan untuk mencapai suatu tujuan. Istilah-istilah dan konsep dalam menghitung biaya digunakan dalam pengertian yang berbeda-beda, oleh karena tergantung dari kondisi, tujuan dan pihak yang akan menggunakannya (Adikoesumah, 1982 – 1).
Pass, Lowes dan Davis menyatakan bahwa biaya merupakan pembayaran (termasuk biaya eksplisit dan biaya implisit) yang ditimbulkan oleh perusahaan untuk memproduksi outputnya (1998 – 118).

2. Pengertian Sistem Biaya
Sistem biaya merupakan alat pengukur performance suetu perusahaan, pengukuran performance ini dilakukan secara periodikal dan terus-menerus.
Sistem biaya telah dipergunakan oleh berbagai perusahaan sebagai pengukur performa secara periodik (Cooper dan Kaplan, 1991 – 1).
Untuk menyusun suatu Cost System diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai (Adikusumah, 1982) :
1. Struktur organisasi dari perusahaan yang bersangkutan.
2. Proses Produksinya.
3. Tipe informasi biaya yang dibutuhkan oleh pihak manajemen.
Dimana tiap Cost System harus dapat :
1. mengkalkulasi harga pokok dari produk.
2. Digunakan sebagai alat untuk menilai persediaan bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi.
3. Memberikan bantuan dalam mengotrol dan memimpin perusahaan.
4. Mengukur efisiensi pemakaian tenaga kerja, baha baku dan mesin.
5. Membantu menghilangkan dan mengurangkan pemborosan biaya.
6. Memberikan perbandingan dengan perusahaan sejenis.
7. Membantu dalam menetapkan harga jual produk yang dihasilkan.
8. Memberikan data-data untuk analisis.

3. Pengertian Biaya Overhead Pabrik
Biaya Overhead pabrik adalah biaya-biaya bahan tak langsung, buruh tak langsung dan biaya-biaya pabrik lainnya yang tidak secara mudah diidentifikasikan atau dibebankan langsung pada suatu pekerjaan, hasil produksi atau tujuan biaya akhir (Usry dan Hammer, 1991 – 368).
Pendapat ahli lainya menyatakan bahwa biaya overhead pabrik merupakan setiap biaya yang tidak secara langsung melekat pada suatu produk, yaitu semua biaya-biaya diluar biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik mencakup biaya produksi lainnya seperti pemanasan ruang pabrik, penerangan, penyusutan pabrik dan mesin-mesin. Biaya pabrik seperti pemeliharaan, gudang bahan-bahan dan hal lain yang memberikan pelayanan-pelayanan kepada bagian produksi juga merupakan bagian dari biaya overhead pabrik. Biaya penjualan dan biaya distribusi, dan semua biaya administrasi juga diperhitungkan sebagai biaya overhead sepanjang biaya-biaya tersebut tidak dapat secara langsung dihubungkan dengan unit produk (Pass, Lowes dan Davis, 1998 – 118).
Berbagai macam biaya overhead pabrik harus dibebankan kepada semua pekerjaan yang terlaksana selama suatu periode. Oleh karena itu, untuk dapat membebankan biaya overhead pabrik secara merata kepada setiap produk digunakan tarif biaya overhead pabrik yang ditentukan dimuka.
Penentuan tarif biaya overhead pabrik dilaksanakan melalui tiga tahap berikut ini (Mulyadi, 1992 – 212) :
1. Menyusun anggaran biaya over head pabrik.
2. Memilih dasar pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk.
3. Menghitung tarif biaya overhead pabrik.

4. Munculnya Kebutuhan akan Sistem Biaya Baru
Agar dapat bertahan dalam menghadapi ketatnya persaingan dalam dunia usaha, manajemen perusahaan dituntut untuk dapat mengindentifikasi aktivitas yang tidak bernilai tambah, sehingga aktivitas yang tidak bernilai tambah dapat dieliminasi.
Agar tujuan tersebut dapat terlaksana, dibutuhkan informasi biaya yang akurat, dan yang dapat mencerminkan konsumsi sumber daya dalam berbagai aktivitas perusahaan. Sehingga manajemen dapat menantau dan mengendalikan penggunaan sumber daya dalam berbagai aktivitas operasional perusahaan.
Disamping itu mendesaknya kebutuhan akan sistem biaya yang baru juga disebabkan oleh penggunaan teknologi maju dalam proses manufaktur. Sehingga menimbulkan adanya pengeseran tenaga kerja langsung, yang kemudian diganti dengan mesin-mesin yang sudah terotomatisasi. Hal ini berakibat proporsi biaya overhead dalam harga pokok produksi menjadi semakin dominan.
Pengalokasian biaya overhead yang tidak tepat akan mengakibatkan distorsi dalam penetapan harga pokok produksi. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem biaya baru yang mampu menghasilkan informasi biaya yang akurat sebagai dasar pengambilan keputusan oleh pihak manajemen.

5. Sistem Pengalokasian Biaya Overhead Pabrik.
Sistem pengalokasian biaya overhead meliputi :
a. Sistem Biaya Konvensional
Menurut James A. Brimson (1991 : 7) sistem biaya konvensional mampu mengukur secara akurat sumber daya yang dikonsumsi secara proporsional dengan jumlah unit yang diproduksi dari suatu produk. Sumber daya tersebut, meliputi bahan baku, tenaga kerja langsung, jam mesin dan sebagainya.Dan biaya-biaya yang timbul akibat pemakaian sumber daya tersebut dialokasikan pada produk berdasarkan jam kerja langsung, bahan baku yang dibeli atau unit yang diproduksi.
Sistem biaya tradisional dapat membantu manajemen dalam perencanaan dan pengendalian kegiatan perusahaan di dalam perusahaan yang masih menggunakan teknologi yang sederhana dalam proses produksinya untuk menghasilkan produk.
b. Activity-Based Cost System
Timbulnya perhatian untuk merancang sistem akuntansi manajemen berdasarkan aktivitas disebabkan oleh karena selama ini akuntansi manajemen (sistem tradisional) menghasilkan informasi atas dasar pengolahan angka-angka akuntansi keuangan yangterikat terhadap norma-norma akuntansi keuangan bagi kepentingan (entity) pihak luar perusahaan, sedangkan informasi yang dibutuhkan untuk manajer tingkat intern perusahaan (yang berperan aktif untuk mengendalikan perusahaan tersebut) lebih membutuhkan informasi yang dekat terhadap pengelolaan operasional. Kegunaan informasi akuntansi biaya yang relevan, akurat, dan tepat waktu untuk proses pengambilan keputusan sangat dibutuhkan guna mencapai posisi strategis perusahaan dalam lingkungan bisnis yang berubah setiap saat.
Biaya atas aktivitas produksi ditentukan oleh Cost Efectiveness perusahaan dalam proses manufaktur, dan harga produk ditentukan oleh aktivitas mekanisasi pasar, yang mana harga tersdebut merupakan suatu hal yang given dalam strategi penetapan harga pokok. Oleh sebab itu perusahaan dituntut untuk dapat memperbaiki (improvement) kondisi internnya secara terus menerus, sehingga harga produk yang ditawarkan dalam persaingan bisnis yang berkompetisi secara tajam dapat mencapai Market Share yang besar. Hal tersebut dapat dilihat dalam kalimat sebagai berikut :
“Activity management begins with the proposition that a competitive business must provide value to customer at cost less than price customers pay for that value”.
Menelusuri biaya berdasarkan aktivitas dalam proses pemanufakturan akan memberikan informasi yang relevan dan akurat karena biaya telah dibebankan langsung kepada aktivitas yang mengkonsumsi sumberdaya. Hal ini memungkinkan untuk dilaksanakan dalam keadaan sekarang, karena pencatatan data akuntansi dapt dibantu oleh pemakaian peralatan rekayasa informasi atas setiap cost driver.
Metoda penerapan harga pokok berdasarkan aktivitas adalah mencari atau menghitung intensitas biaya untuk setiap cost driver. Sehingga untuk menetapkan harga pokok suatu produk yang akan dihasilkan adalah dengan cara mengalikan nilai intensitas cost driver dengan jumlah aktivitas yang dikonsumsi untuk menghasilkan produk yang akan dihasilkan tersebut. Oleh sebab itu bagi perusahaan yang menggunakan metoda ABC dalam penetapan harga pokok harus memperbaharui angka intensitas cost driver setiap saat. Oleh sebab itu sitem metoda penetapan harga pokok ini sangan dipengaruhi oleh pemakaian rekayasa informasi, sehingga dapat memperoleh informasi yang memungkinkan untuk melaksanakan continuous improvement.
Setelah melihat perkembangan pemakaian rekayasa informasi dalam proses pemanufakturan, akhirnya muncul kecenderungan perusahaan manufaktur untuk menghasilkan produk yang biasanya bersifat single product menjadi multi product, dan diversify product. Akibatnya dibutuhkan suatu metoda sistem akuntansi biaya yang dapat menghasilkan informasi biaya yang akurat dan relevan bagi lini produk yang dihasilkan, tanpa terjadi under costed dan over costed pada masing-masing lini produk yang dihasilkan. Metode Activity Based Costing merupakan metode yang dapat memenuhi tuntutan akan informasi biaya seperti yang digambarkan di atas.
Activity–Based Cost System merupakan sistem biaya baru yang digunakan untuk memperbaiki informasi harga pokok produk yang terdistorsi dalam sistem biaya konvensional.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa walaupun sistem akuntansi biaya tradisional dan sistem akuntansi biaya berdasarkan aktivitas (ABC System) akan menghasilkan informasi yang sama pada perusahaan yang memproduksi single product dengan pemakaian komposisi sumberdaya tidak langsung yang relatif sedikit jumlahnya, namun sistem ABC akan lebih memungkinkan untuk dapat diprogramkan pada pemakaian peralatan rekayasa informasi dari pada dengan sistem akuntansi biaya tradisional.

Metode Penetapan Dasar Pembebanan Biaya pada ABC System

Untuk mengetimasi besarnya biaya untuk setiap aktivitas serta untuk menetapkan dasar pembebanan biaya pada tahap kedua, dalam ABC system dikenal adanya tiga metode (Johnson H. Thomas and Roberts S. Kaplan. 1987 : 237), yaitu :

1. Metode Cost driver System
Dalam metode ini seluruh sumber daya yang digunakan pada suatu aktivitas tertentu dijumlahkan kemudian dibagi dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan. perhitungan tersebut digunakan untuk memperoleh biaya per unit untuk setiap aktivitas yang akan dibebankan pada produk berdasarkan banyaknya aktivitas yang dikonsumsi oleh masing-masing produk.
Metode ini mengasumsikan bahwa setiap aktivitas menyerap sumber daya perusahaan dalam jumlah yang sama. Oleh karena itu pada metode ini kurang akurat bila diterapkan dalam perusahaan yang menghasilkan multi produk dengan beragam aktivitas kompleks.

2. Metode Duration Driver System
Pada metode ini perhitungan serta pembebanan biaya overhead pada produk dilakukan dengan memperhatikan lamanya waktu yang diperlukan untuk melakukan setiap aktivitas. Metode ini akan menghasilkan perhitungan yang lebih akurat dibanding metode pertama, terutama bila lamanya waktu untuk melakukan setiap aktivitas berbeda-beda. Kelemahan metode ini adalah pada mahalnya biaya dan lamanya waktu untuk pengadaan informasi.

3. Metode Intesity/Direct Charge Driver system
Metode ini merupakan penyempurnaan dari metode kedua. Metode ini mengukur sumber daya aktual yang digunakan untuk setiap waktu suatu aktivitas dilakukan. Misalnya untuk produk yang sangat komplek, yang membutuhkan pengawasan khusus. Untuk produk ini bagian pengendalian kualitas harus ikut mengawasi saat dilakukan set-up mesin sampai produk pertama diproduksi.

Manfaat Activity Based Cost System
Manfaat dari Activity Based Cost System adalah :
1. Memperbaiki keputusan yang diambil oleh manajemen perusahaan.
2. Melakukan perbaikan terhadap aktivitas perusahaan untuk memperkecil harga pokok produk.
3. Mengarahkan perusahaan untuk melakukan perbaikan strategis.
4. Menyatukan bagian akuntasi dan bagian operasional perusahaan.

TEKNIK SAMPLING

Hasan Mustafa /2000

Sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel jika tidak ada populasi. Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan kita teliti. Penelitian yang dilakukan atas seluruh elemen dinamakan sensus. Idealnya, agar hasil penelitiannya lebih bisa dipercaya, seorang peneliti harus melakukan sensus. Namun karena sesuatu hal peneliti bisa tidak meneliti keseluruhan elemen tadi, maka yang bisa dilakukannya adalah meneliti sebagian dari keseluruhan elemen atau unsur tadi.

Berbagai alasan yang masuk akal mengapa peneliti tidak melakukan sensus antara lain adalah,(a) populasi demikian banyaknya sehingga dalam prakteknya tidak mungkin seluruh elemen diteliti; (b) keterbatasan waktu penelitian, biaya, dan sumber daya manusia, membuat peneliti harus telah puas jika meneliti sebagian dari elemen penelitian; (c) bahkan kadang, penelitian yang dilakukan terhadap sampel bisa lebih reliabel daripada terhadap populasi – misalnya, karena elemen sedemikian banyaknya maka akan memunculkan kelelahan fisik dan mental para pencacahnya sehingga banyak terjadi kekeliruan. (Uma Sekaran, 1992); (d) demikian pula jika elemen populasi homogen, penelitian terhadap seluruh elemen dalam populasi menjadi tidak masuk akal, misalnya untuk meneliti kualitas jeruk dari satu pohon jeruk

Agar hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel masih tetap bisa dipercaya dalam artian masih bisa mewakili karakteristik populasi,  maka cara penarikan sampelnya harus dilakukan secara seksama. Cara pemilihan sampel dikenal dengan nama teknik sampling atau teknik pengambilan sampel .

Populasi atau universe adalah sekelompok orang, kejadian, atau benda, yang dijadikan obyek penelitian. Jika yang ingin diteliti adalah sikap konsumen terhadap satu produk tertentu, maka populasinya adalah seluruh konsumen produk tersebut. Jika yang diteliti adalah laporan keuangan perusahaan “X”, maka populasinya adalah keseluruhan laporan keuangan perusahaan “X” tersebut, Jika yang diteliti adalah motivasi pegawai di departemen “A” maka populasinya adalah seluruh pegawai di departemen “A”. Jika yang diteliti adalah efektivitas gugus kendali mutu (GKM) organisasi “Y”, maka populasinya adalah seluruh GKM organisasi “Y”

Elemen/unsur adalah setiap satuan populasi. Kalau dalam populasi terdapat 30 laporan keuangan, maka setiap laporan keuangan tersebut adalah unsur atau elemen penelitian. Artinya dalam populasi tersebut terdapat 30 elemen penelitian. Jika populasinya adalah pabrik sepatu, dan jumlah pabrik sepatu 500, maka dalam populasi tersebut terdapat 500 elemen penelitian.

Syarat sampel yang baik

Secara umum, sampel yang baik adalah yang dapat mewakili sebanyak mungkin karakteristik populasi. Dalam bahasa pengukuran, artinya sampel harus valid, yaitu bisa mengukur sesuatu yang seharusnya diukur. Kalau yang ingin diukur adalah masyarakat Sunda sedangkan yang dijadikan sampel adalah hanya orang Banten saja, maka sampel tersebut tidak valid, karena tidak mengukur sesuatu yang seharusnya diukur (orang Sunda). Sampel yang valid ditentukan oleh dua pertimbangan.

Pertama : Akurasi atau ketepatan , yaitu tingkat ketidakadaan “bias” (kekeliruan) dalam sample. Dengan kata lain makin sedikit tingkat kekeliruan yang ada dalam sampel, makin akurat sampel tersebut. Tolok ukur adanya “bias” atau kekeliruan  adalah populasi.

Cooper dan Emory (1995) menyebutkan bahwa “there is no systematic variance yang maksudnya adalah tidak ada keragaman pengukuran yang disebabkan karena pengaruh yang diketahui atau tidak diketahui, yang menyebabkan skor cenderung mengarah pada satu titik tertentu. Sebagai contoh, jika ingin mengetahui rata-rata luas tanah suatu perumahan, lalu yang dijadikan sampel adalah rumah yang terletak di setiap sudut jalan, maka hasil atau skor yang diperoleh akan bias. Kekeliruan semacam ini bisa terjadi pada sampel yang diambil secara sistematis

Contoh systematic variance yang banyak ditulis dalam buku-buku metode penelitian adalah jajak-pendapat (polling) yang dilakukan oleh Literary Digest (sebuah majalah yang terbit di Amerika tahun 1920-an) pada tahun 1936. (Copper & Emory, 1995, Nan lin, 1976). Mulai tahun 1920, 1924, 1928, dan tahun 1932 majalah ini berhasil memprediksi siapa yang akan jadi presiden dari calon-calon presiden yang ada. Sampel diambil berdasarkan petunjuk dalam buku telepon dan dari daftar pemilik mobil. Namun pada tahun 1936 prediksinya salah. Berdasarkan jajak pendapat, di antara dua calon presiden (Alfred M. Landon dan Franklin D. Roosevelt), yang akan menang adalah Landon, namun meleset karena ternyata Roosevelt yang terpilih menjadi presiden Amerika.

Setelah diperiksa secara seksama, ternyata Literary Digest membuat kesalahan dalam menentukan sampel penelitiannya . Karena semua sampel yang diambil adalah mereka yang memiliki telepon dan mobil, akibatnya pemilih yang sebagian besar tidak memiliki telepon dan mobil (kelas rendah) tidak terwakili, padahal Rosevelt lebih banyak dipilih oleh masyarakat kelas rendah tersebut. Dari kejadian tersebut ada dua pelajaran yang diperoleh : (1), keakuratan prediktibilitas dari suatu sampel tidak selalu bisa dijamin dengan banyaknya jumlah sampel; (2) agar sampel dapat memprediksi dengan baik populasi, sampel harus mempunyai selengkap mungkin karakteristik populasi (Nan Lin, 1976).

Kedua : Presisi. Kriteria kedua sampel yang baik adalah memiliki tingkat presisi estimasi. Presisi mengacu pada persoalan sedekat mana estimasi kita  dengan karakteristik populasi. Contoh : Dari 300 pegawai produksi, diambil sampel 50 orang. Setelah diukur ternyata rata-rata perhari, setiap orang menghasilkan 50 potong produk “X”. Namun berdasarkan laporan harian, pegawai bisa menghasilkan produk “X” per harinya rata-rata 58 unit. Artinya di antara laporan harian yang dihitung berdasarkan populasi dengan hasil penelitian yang dihasilkan dari sampel, terdapat perbedaan 8 unit. Makin kecil tingkat perbedaan di antara rata-rata populasi dengan rata-rata sampel, maka makin tinggi tingkat presisi sampel tersebut.

Belum pernah ada sampel yang bisa mewakili karakteristik populasi sepenuhnya. Oleh karena itu dalam setiap penarikan sampel senantiasa melekat keasalahan-kesalahan, yang dikenal dengan nama “sampling error” Presisi diukur oleh simpangan baku (standard error). Makin kecil perbedaan di antara simpangan baku yang diperoleh dari sampel (S) dengan simpangan baku dari populasi (s), makin tinggi pula tingkat presisinya. Walau tidak selamanya, tingkat presisi mungkin  bisa meningkat dengan cara menambahkan jumlah sampel, karena kesalahan mungkin bisa berkurang kalau jumlah sampelnya ditambah ( Kerlinger, 1973 ). Dengan contoh di atas tadi, mungkin saja perbedaan rata-rata di antara populasi dengan sampel bisa lebih sedikit, jika sampel yang ditariknya ditambah. Katakanlah dari 50 menjadi 75.

Di bawah ini digambarkan hubungan antara jumlah sampel dengan tingkat kesalahan seperti yang diuarakan oleh Kerlinger

besar

kesa-

lahan

kecil

kecil           besarnya sampel          besar

Ukuran sampel

Ukuran sampel atau jumlah sampel yang diambil menjadi persoalan yang penting manakala jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian yang menggunakan analisis kuantitatif. Pada penelitian yang menggunakan analisis kualitatif, ukuran sampel bukan menjadi nomor satu, karena yang dipentingkan alah kekayaan informasi. Walau jumlahnya sedikit tetapi jika kaya akan informasi, maka sampelnya lebih bermanfaat.

Dikaitkan dengan besarnya sampel, selain tingkat kesalahan, ada lagi beberapa faktor lain yang perlu memperoleh pertimbangan yaitu, (1) derajat keseragaman, (2) rencana analisis, (3) biaya, waktu, dan tenaga yang tersedia . (Singarimbun dan Effendy, 1989). Makin tidak seragam sifat atau karakter setiap elemen populasi, makin banyak sampel yang harus diambil.  Jika rencana analisisnya mendetail atau rinci maka jumlah sampelnya pun harus banyak. Misalnya di samping ingin mengetahui sikap konsumen terhadap kebijakan perusahaan, peneliti juga bermaksud mengetahui hubungan antara sikap dengan tingkat pendidikan. Agar tujuan ini dapat tercapai maka sampelnya harus terdiri atas berbagai jenjang pendidikan SD, SLTP. SMU, dan seterusnya.. Makin sedikit waktu, biaya , dan tenaga yang dimiliki peneliti, makin sedikit pula sampel yang bisa diperoleh. Perlu dipahami bahwa apapun alasannya, penelitian haruslah dapat dikelola dengan baik (manageable).

Misalnya, jumlah bank yang dijadikan populasi penelitian ada 400 buah. Pertanyaannya adalah, berapa bank yang harus diambil menjadi sampel agar hasilnya mewakili populasi?. 30?, 50? 100? 250?. Jawabnya tidak mudah. Ada yang mengatakan, jika ukuran populasinya di atas 1000, sampel sekitar 10 % sudah cukup, tetapi jika ukuran populasinya sekitar 100, sampelnya paling sedikit 30%, dan kalau ukuran populasinya 30, maka sampelnya harus 100%.

Ada pula yang menuliskan, untuk penelitian deskriptif, sampelnya 10% dari populasi, penelitian korelasional, paling sedikit 30 elemen populasi, penelitian perbandingan kausal, 30 elemen per kelompok, dan untuk penelitian eksperimen 15 elemen per kelompok (Gay dan Diehl, 1992).

Roscoe (1975) dalam Uma Sekaran (1992)  memberikan pedoman penentuan jumlah sampel sebagai berikut :

  1. Sebaiknya ukuran sampel di antara 30 s/d 500 elemen
  2. Jika sampel dipecah lagi ke dalam subsampel (laki/perempuan, SD?SLTP/SMU, dsb), jumlah minimum subsampel harus 30
  3. Pada penelitian multivariate (termasuk analisis regresi multivariate) ukuran sampel harus beberapa kali lebih besar (10 kali) dari jumlah variable yang akan dianalisis.
  4. Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, dengan pengendalian yang ketat, ukuran sampel bisa antara 10 s/d 20 elemen.

Krejcie dan Morgan (1970) dalam Uma Sekaran (1992) membuat daftar yang bisa dipakai untuk menentukan jumlah sampel sebagai berikut (Lihat Tabel)

Populasi (N) Sampel (n) Populasi (N) Sampel (n) Populasi (N) Sampel (n)
10 10 220 140 1200 291
15 14 230 144 1300 297
20 19 240 148 1400 302
25 24 250 152 1500 306
30 28 260 155 1600 310
35 32 270 159 1700 313
40 36 280 162 1800 317
45 40 290 165 1900 320
50 44 300 169 2000 322
55 48 320 175 2200 327
60 52 340 181 2400 331
65 56 360 186 2600 335
70 59 380 191 2800 338
75 63 400 196 3000 341
80 66 420 201 3500 346
85 70 440 205 4000 351
90 73 460 210 4500 354
95 76 480 214 5000 357
100 80 500 217 6000 361
110 86 550 226 7000 364
120 92 600 234 8000 367
130 97 650 242 9000 368
140 103 700 248 10000 370
150 108 750 254 15000 375
160 113 800 260 20000 377
170 118 850 265 30000 379
180 123 900 269 40000 380
190 127 950 274 50000 381
200 132 1000 278 75000 382
210 136 1100 285 1000000 384

Sebagai informasi lainnya, Champion (1981) mengatakan bahwa sebagian besar uji statistik selalu menyertakan rekomendasi ukuran sampel. Dengan kata lain, uji-uji statistik yang ada akan sangat efektif jika diterapkan pada sampel yang jumlahnya 30 s/d 60 atau dari 120 s/d 250. Bahkan jika sampelnya di atas 500, tidak direkomendasikan untuk menerapkan uji statistik. (Penjelasan tentang ini dapat dibaca di Bab 7 dan 8 buku Basic Statistics for Social Research, Second Edition)

Teknik-teknik pengambilan sampel

Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak atau random sampling / probability sampling, dan sampel tidak acak atau nonrandom samping/nonprobability sampling. Yang dimaksud dengan random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Artinya jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih menjadi sampel. Sedangkan yang dimaksud dengan nonrandom sampling atau nonprobability sampling, setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. Lima elemen populasi dipilih sebagai sampel karena letaknya dekat dengan rumah peneliti, sedangkan yang lainnya, karena jauh, tidak dipilih; artinya kemungkinannya 0 (nol).

Dua jenis teknik pengambilan sampel di atas mempunyai tujuan yang berbeda. Jika peneliti ingin hasil penelitiannya bisa dijadikan ukuran untuk mengestimasikan populasi, atau istilahnya adalah melakukan generalisasi maka seharusnya sampel representatif dan diambil secara acak. Namun jika peneliti tidak mempunyai kemauan melakukan generalisasi hasil penelitian maka sampel bisa diambil secara tidak acak. Sampel tidak acak biasanya juga diambil jika peneliti tidak mempunyai data pasti tentang ukuran populasi dan informasi lengkap tentang setiap elemen populasi. Contohnya, jika yang diteliti populasinya adalah konsumen teh botol, kemungkinan besar peneliti tidak mengetahui dengan pasti berapa jumlah konsumennya, dan juga karakteristik konsumen. Karena dia tidak mengetahui ukuran pupulasi yang tepat, bisakah dia mengatakan bahwa 200 konsumen sebagai sampel dikatakan “representatif”?. Kemudian, bisakah peneliti  memilih sampel secara acak, jika tidak ada informasi yang cukup lengkap tentang diri konsumen?. Dalam situasi yang demikian, pengambilan sampel dengan cara acak tidak dimungkinkan, maka tidak ada pilihan lain kecuali sampel diambil dengan cara tidak acak atau nonprobability sampling, namun dengan konsekuensi hasil penelitiannya tersebut tidak bisa digeneralisasikan. Jika ternyata dari 200 konsumen teh botol tadi merasa kurang puas, maka peneliti tidak bisa mengatakan bahwa sebagian besar konsumen teh botol merasa kurang puas terhadap the botol.

Di setiap jenis teknik pemilihan tersebut, terdapat beberapa teknik yang lebih spesifik lagi. Pada sampel acak (random sampling) dikenal dengan istilah simple random sampling, stratified random sampling, cluster sampling, systematic sampling, dan area sampling. Pada nonprobability sampling dikenal beberapa teknik, antara lain adalah convenience sampling, purposive sampling, quota sampling, snowball sampling

Probability/Random Sampling.

Syarat pertama yang harus dilakukan untuk mengambil sampel secara acak adalah memperoleh atau membuat kerangka sampel atau dikenal dengan nama “sampling frame”. Yang dimaksud dengan  kerangka sampling adalah daftar yang berisikan setiap elemen populasi yang bisa diambil sebagai sampel. Elemen populasi bisa berupa data tentang orang/binatang, tentang kejadian, tentang tempat, atau juga tentang benda. Jika populasi penelitian adalah mahasiswa perguruan tinggi “A”, maka peneliti harus bisa memiliki daftar semua mahasiswa yang terdaftar di perguruan tinggi “A “ tersebut selengkap mungkin. Nama, NRP, jenis kelamin, alamat, usia, dan informasi lain yang berguna bagi penelitiannya.. Dari daftar ini, peneliti akan bisa secara pasti mengetahui jumlah populasinya (N). Jika populasinya adalah rumah tangga dalam sebuah kota, maka peneliti harus mempunyai daftar seluruh rumah tangga kota tersebut.  Jika populasinya adalah wilayah Jawa Barat, maka penelti harus mepunyai peta wilayah Jawa Barat secara lengkap. Kabupaten, Kecamatan, Desa, Kampung. Lalu setiap tempat tersebut diberi kode (angka atau simbol) yang berbeda satu sama lainnya.

Di samping sampling frame, peneliti juga harus mempunyai alat yang bisa dijadikan penentu sampel. Dari sekian elemen populasi, elemen mana saja yang bisa dipilih menjadi sampel?. Alat yang umumnya digunakan adalah Tabel Angka Random, kalkulator, atau  undian. Pemilihan sampel secara acak bisa dilakukan melalui sistem undian jika elemen populasinya tidak begitu banyak. Tetapi jika sudah ratusan, cara undian bisa mengganggu konsep “acak” atau “random” itu sendiri.

  1. Simple Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana

Cara atau teknik ini dapat dilakukan jika analisis penelitiannya cenderung deskriptif dan bersifat umum. Perbedaan karakter yang mungkin ada pada setiap unsur atau elemen  populasi tidak merupakan hal yang penting bagi rencana analisisnya. Misalnya, dalam populasi ada wanita dan pria, atau ada yang kaya dan yang miskin, ada manajer dan bukan manajer, dan perbedaan-perbedaan lainnya.  Selama perbedaan gender, status kemakmuran, dan kedudukan dalam organisasi, serta perbedaan-perbedaan lain tersebut bukan merupakan sesuatu hal yang penting dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel secara acak sederhana. Dengan demikian setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Prosedurnya :

    1. Susun “sampling frame”
    2. Tetapkan jumlah sampel yang akan diambil
    3. Tentukan alat pemilihan sampel
    4. Pilih sampel sampai dengan jumlah terpenuhi
  1. Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan

Karena unsur populasi berkarakteristik heterogen, dan heterogenitas tersebut mempunyai arti yang signifikan pada pencapaian tujuan penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel dengan cara ini. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui sikap manajer terhadap satu kebijakan perusahaan. Dia menduga bahwa manajer tingkat atas cenderung positif sikapnya terhadap kebijakan perusahaan tadi. Agar dapat menguji dugaannya tersebut maka sampelnya harus terdiri atas paling tidak para manajer tingkat atas, menengah, dan bawah. Dengan teknik pemilihan sampel secara random distratifikasikan, maka dia akan memperoleh manajer di ketiga tingkatan tersebut, yaitu stratum manajer atas, manajer menengah dan manajer bawah. Dari setiap stratum tersebut dipilih sampel secara acak. Prosedurnya :

    1. Siapkan “sampling frame”
    2. Bagi sampling frame tersebut berdasarkan strata yang dikehendaki
    3. Tentukan jumlah sampel dalam setiap stratum
    4. Pilih sampel dari setiap stratum secara acak.

Pada saat menentukan jumlah sampel dalam setiap stratum, peneliti dapat menentukan secara (a) proposional, (b) tidak proposional. Yang dimaksud dengan proposional adalah jumlah sampel dalam setiap stratum sebanding dengan jumlah unsur populasi dalam stratum tersebut. Misalnya, untuk stratum manajer tingkat atas (I) terdapat 15 manajer, tingkat menengah ada 45 manajer (II), dan manajer tingkat bawah (III) ada 100 manajer. Artinya jumlah seluruh manajer adalah 160. Kalau jumlah sampel yang akan diambil seluruhnya 100 manajer, maka  untuk stratum I diambil (15:160)x100 = 9 manajer, stratum II = 28 manajer, dan stratum 3 = 63 manajer.

Jumlah dalam setiap stratum tidak proposional. Hal ini terjadi jika jumlah unsur atau elemen di salah satu atau beberapa stratum sangat sedikit. Misalnya saja, kalau dalam stratum manajer kelas atas (I) hanya ada 4 manajer, maka peneliti bisa mengambil semua manajer dalam stratum tersebut , dan untuk manajer tingkat menengah (II) ditambah 5, sedangkan manajer tingat bawah (III), tetap 63 orang.

  1. Cluster Sampling atau Sampel Gugus

Teknik ini biasa juga diterjemahkan dengan cara pengambilan sampel berdasarkan gugus. Berbeda dengan teknik pengambilan sampel acak yang distratifikasikan, di mana setiap unsur dalam satu stratum memiliki karakteristik yang homogen (stratum A : laki-laki semua, stratum B : perempuan semua), maka dalam sampel gugus, setiap gugus boleh mengandung unsur yang karakteristiknya berbeda-beda atau heterogen. Misalnya, dalam satu organisasi terdapat 100 departemen. Dalam setiap departemen terdapat banyak pegawai dengan karakteristik berbeda pula. Beda jenis kelaminnya, beda tingkat pendidikannya, beda tingkat pendapatnya, beda tingat manajerialnnya, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Jika peneliti bermaksud mengetahui tingkat penerimaan para pegawai terhadap suatu strategi yang segera diterapkan perusahaan, maka peneliti dapat menggunakan cluster sampling untuk mencegah terpilihnya sampel hanya dari satu atau dua departemen saja. Prosedur :

  1. Susun sampling frame berdasarkan gugus – Dalam kasus di atas, elemennya ada 100 departemen.
  2. Tentukan berapa gugus yang akan diambil sebagai sampel
  3. Pilih gugus sebagai sampel dengan cara acak
  4. Teliti setiap pegawai yang ada dalam gugus sample

4. Systematic Sampling atau Sampel Sistematis

Jika peneliti dihadapkan pada ukuran populasi yang banyak dan tidak memiliki alat pengambil data secara random, cara pengambilan sampel sistematis dapat digunakan. Cara ini menuntut kepada peneliti untuk memilih unsur populasi secara sistematis, yaitu unsur populasi yang bisa dijadikan sampel adalah yang “keberapa”.  Misalnya, setiap unsur populasi yang keenam, yang bisa dijadikan sampel. Soal “keberapa”-nya satu unsur populasi bisa dijadikan sampel tergantung pada  ukuran populasi dan ukuran sampel. Misalnya, dalam satu populasi terdapat 5000 rumah. Sampel yang akan diambil adalah 250 rumah dengan demikian interval di antara sampel kesatu, kedua, dan seterusnya adalah 25. Prosedurnya :

  1. Susun sampling frame
  2. Tetapkan jumlah sampel yang ingin diambil
  3. Tentukan K (kelas interval)
  4. Tentukan angka atau nomor awal di antara kelas interval tersebut secara acak atau random – biasanya melalui cara undian saja.
  5. Mulailah mengambil sampel dimulai dari angka atau nomor awal yang terpilih.

10.  Pilihlah sebagai sampel angka atau nomor interval berikutnya

  1. 4. Area Sampling atau Sampel Wilayah

Teknik ini dipakai ketika peneliti dihadapkan pada situasi bahwa populasi penelitiannya tersebar di berbagai wilayah. Misalnya, seorang marketing manajer sebuah stasiun TV ingin mengetahui tingkat penerimaan masyarakat Jawa Barat atas sebuah mata tayangan, teknik pengambilan sampel dengan area sampling sangat tepat. Prosedurnya :

  1. Susun sampling frame yang menggambarkan peta wilayah (Jawa Barat) – Kabupaten, Kotamadya, Kecamatan, Desa.
  2. Tentukan wilayah yang akan dijadikan sampel (Kabupaten ?, Kotamadya?, Kecamatan?, Desa?)
  3. Tentukan berapa wilayah yang akan dijadikan sampel penelitiannya.
  4. Pilih beberapa wilayah untuk dijadikan sampel dengan cara acak atau random.
  5. Kalau ternyata masih terlampau banyak responden yang harus diambil datanya, bagi lagi wilayah yang terpilih ke dalam sub wilayah.

Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak

Seperti telah diuraikan sebelumnya, jenis sampel ini tidak dipilih secara acak. Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti.

  1. Convenience Sampling atau sampel yang dipilih dengan pertimbangan kemudahan.

Dalam memilih sampel, peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali berdasarkan kemudahan saja. Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tadi ada di situ atau kebetulan dia mengenal orang tersebut. Oleh karena itu ada beberapa penulis menggunakan istilah accidental sampling – tidak disengaja – atau juga captive sample (man-on-the-street) Jenis sampel ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk penelitian penjajagan, yang kemudian diikuti oleh penelitian lanjutan yang sampelnya diambil secara acak (random). Beberapa kasus penelitian yang menggunakan jenis sampel ini,  hasilnya ternyata kurang obyektif.

  1. Purposive Sampling

Sesuai dengan namanya, sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya. Dua jenis sampel ini dikenal dengan nama judgement dan quota sampling.

Judgment Sampling

Sampel dipilih berdasarkan penilaian peneliti bahwa dia adalah pihak yang paling baik untuk dijadikan sampel penelitiannya.. Misalnya untuk memperoleh data tentang bagaimana satu proses produksi direncanakan oleh suatu perusahaan, maka manajer produksi merupakan orang yang terbaik untuk bisa memberikan informasi. Jadi, judment sampling umumnya memilih sesuatu atau seseorang menjadi sampel karena mereka mempunyai “information rich”.

Dalam program pengembangan produk (product development), biasanya yang dijadikan sampel adalah karyawannya sendiri, dengan pertimbangan bahwa kalau karyawan sendiri tidak puas terhadap produk baru yang akan dipasarkan, maka jangan terlalu berharap pasar akan menerima produk itu dengan baik. (Cooper dan Emory, 1992).

Quota Sampling

Teknik sampel ini adalah bentuk dari sampel distratifikasikan secara proposional, namun tidak dipilih secara acak melainkan secara kebetulan saja.

Misalnya, di sebuah kantor terdapat pegawai laki-laki 60%  dan perempuan 40% . Jika seorang peneliti ingin mewawancari 30 orang pegawai dari kedua jenis kelamin tadi maka dia harus mengambil sampel pegawai laki-laki sebanyak 18 orang sedangkan pegawai perempuan 12 orang. Sekali lagi, teknik pengambilan ketiga puluh sampel tadi tidak dilakukan secara acak, melainkan secara kebetulan saja.

  1. 3. Snowball Sampling – Sampel Bola Salju

Cara ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui pandangan kaum lesbian terhadap lembaga perkawinan. Peneliti cukup mencari satu orang wanita lesbian dan kemudian melakukan wawancara. Setelah selesai, peneliti tadi minta kepada wanita lesbian tersebut untuk bisa mewawancarai teman lesbian lainnya. Setelah jumlah wanita lesbian yang berhasil diwawancarainya dirasa cukup, peneliti bisa mengentikan pencarian wanita lesbian lainnya. . Hal ini bisa juga dilakukan pada pencandu narkotik, para gay, atau kelompok-kelompok sosial lain yang eksklusif (tertutup

Table distibusi frekuensi merupakan table ringkasan data yang menunjukkan frekuensi/banyaknya item/objek pada setiap kelas yang ada, yang bertujuan untuk mendapatkan informasi lebih dalam tentang data yang ada yang tidak dapat secara cepat diperoleh dengan melihat data aslinya.

Manfaat table dan grafik.;

  1. Meringkas/rekapitulasi data, baik data kualitatis maupun kuantitatif
    1. Data kualitatif berupa distribusi frekuensi, frekuensi relative, persen distribusi frekuensi,grafik batang, grafik lingkaran
    2. Data kuantitafif berupa distribusi frekuensi, relative frekuensi dan persen distribusi frekuensi, diagram/plot titik, histogram, distribusi kumulatif,ogive
    3. Dapat digunakan untuk melakukan eksplorasi data
    4. Membuat tabulasi silang dan diagram sebaran data

Komponen distribusi frekuensi terdiri dari : 1)    Interval Kelas, adalah sejumlah nilai variabel yang ada dalam batas kelas tertentu. Contoh : 7 – 9 2)    Batas Kelas, adalah suatu nilai yang membatasi kelas pertama dengan kelas yang lain.

3)    Titik Tengah Kelas, adalah nilai yang terdapat di tengah interval kelas. Contohnya : untuk interval kelas 7 – 9 titik tengah kelasnya : Langkah-langkah membuat table distribusi frekuensi

a)    Mengurutkan data dari terkecil sampai terbesar.

b)    Menentukan jumlah/banyaknya interval kelas yang diperlukan, atau dapat juga dengan menggunakan rumus Sturges :

k = 1 + 3,3 log n

keterangan : k = banyaknya interval kelas n = jumlah data

c)    Menentukan rentangan/wilayah data (R) dengan rumus :

R = data tertinggi – data terendah

Membagi wilayah tersebut dengan banyaknya kelas untuk menduga lebar interval (C) dengan rumus :

rumus1

->  Menentukan data pada interval kelas. Langkah pertama adalah meletakkan data terendah dari data yang telah diurutkan di atas tadi, selanjutnya dengan menggunakan rumus C, yaitu dengan cara menjumlahkan data terendah tadi dengan lebar kelas (C) dan hasilnya dikurangi 1, demikian seterusnya untuk menentukan data pada interval kelas yang lain.

->  Menentukan batas kelas : (X-0,5)-(Y+0,5). g)

-> Menentukan titik tengah kelas : rumus2

h)   Menentukan frekuensi masing-masing kelas.

i)     Menjumlahkan kolom frekuensi dan periksa apakah hasilnya sama dengan banyaknya total pengamatan (n).

Berdasarkan atas cara pengelompokkanya, table distribusi frekuensi dibedakan menjadi 2, yaitu;

  1. Table distribusi frekuensi yang disusun menurut angka (numerical frequency distribution)

Dalam table distribusi jenis ini, kelas-kelas yang ada dinyatakan dalam wujud bilangan atau angka dimana kelas-kelas tersebut dibentuk berdasarkan gambaran tentang data yang ada, contoh : Distribusi jumlah pendapatan bulanan pada karyawan divisi pemasaran PT. Green Hill Tea, Inc.

Jumlah Pendapatan Jumlah karyawan (RP)
350.000 sampai 450.000 200
450.000 sampai 550.000 175
550.000 sampai 650.000 125
650.000 sampai 750.000 100
750.000 sampai 850.000 80
850.000 sampai 950.000 40
  1. Tabel ditribusi frekuensi yang di susun menurut kategori tertentu (categorical frequency distribution)

Table ditributribusi frekuensi ini merupakan criteria tertentu, misalnya tingkatan distributor dalam pemasaran produk atau criteria yang lainnya sebagai dasar pengelompokkan. Sebenarnya tampilannya tidak jauh berbeda, hanya saja penentuan suatu criteria atas karakteristik tertentu terasa lebih jelas. Contoh :

No. Karegori Industri Jumlah
1. Industri logam dasar 3
2. Industri kimia dasar 2
3. Industri mesin dasar 2
4. Aneka industry 85
5. Industry kecil 1.558
Jumlah keseluruhan 1.650

Grafik untuk menggambarkan distribusi frekuensi

  1. Histogram

Pada dasarnya histogram menunjukkan jumlah kejadian, kasus atau frekuensi yang terdapat pada masing-masing interval kelas. Histogram adalah tampilan grafis yang menunjukkan bagaimana nilai pengamatan tersebar. Histogram mempunyai dua sumbu, yakni sumbu histogram (X) untuk menyatakan nilai data yang sebenarnya, interval kelas, nilai tengah, batas kelas, atau tepi kelas. Sementara, sumbu vertikal (y) untuk menggambarkan jumlah frekuensi. rumus3

  1. Polygon

Polygon merupakan rangkaian yang menghubungkan titik-titik tengah dari berbagai kelas dalam tabel distribusi frekuensi. Agar gambar yang dihasilkan lebih bagus, maka harus menambahkan satu kelas “tak sebenarnya” atau semu pada awal serta akhir polygon yang masing-masing tidak memiliki frekuensi, sehingga masing-masing kelas semu itu menjadikan garis polygon memotong sumbu horizontal. Sumbu horizontal (X) adalah nilai tengah kelas, sedangkan sumbu vertikal (Y) merupakan frekuensi kelas. poligon

  1. Frekuensi kumulatif

Menunjukkan berapa banyak jumlah frekuensi yang terletak di atas di bawah suatu nilai tertentu dalam interval kelas. Berdasarkan jenisnya, frekuensi kumulatif terdiri dari frekuensi kumulatif “ kurang dari “ (less than cumulative frequency) dan frekuensi kumulatif “lebih dari “ (more than cummulative frequency). Frekuensi kumulatif “lebih dari” memberikan gambaran mengenai jumlah frekuensi yang melebihi nilai tertentu. Contoh :  rumus 4 Kumulatif terhadap jumlah keseluruhan. Persentase itu dinamakan frekuensi relative, bila digambarkan dalam tabel, frekuensi kumulatif relative “kurang dari” adalah sebagai berikut : rumus5 Sementara itu, frekuensi kumulatif “lebih dari” kita hitung sebagaimana tertera dalam tabel dibawah ini, rumus 6Setelah itu, seperi halnya yang berlaku pada penyusunan tabel frekuensi kumulatif lebih dari, kita perlu mencantumkan tabel yang memuat persentase terhapad bentuk keseluruhan.

rumus7

Kemudian, keduanya kita gambarkan dalam grafik ogives yang memang digunakan untuk mengagambarkan frekuensi kumulatif dari sebagaimana yang tertera di bawah ini, rumus8

Selain ditampilkan terpisah, grafik ogives untuk menggambarkan frekuensi kumulatif dapar pula ditampilkan secara berpasangan sebagaimana tergambar di bawah ini

rumus9

  1. Frekuensi relatif

Merupakan penggambaran jumlah frekuensi pada masing-masing kelas dibandingkan dengan keseluruhan yang dinyatakan dalam persentase. Apabila digambarkan melalui frekuensi relative, maka jumlah penjualan minuman ringan merek Green savanna diatas adalah seperti yang tergambar dalam tabel ini :

rumus10

Sedangkan tampilan secara grafis daria frekuensi relative sebagaimana tertera dalam gambar di bawah ini;

rumus11

  1. Diagram batang dan daun

Melalui diagram ini, nilai data asli serta distribusi gugusan data dapat di ketahui secara pasti. Contoh :

untitled

Parameter statistika merupakan kerakteristik dari hasil pengukuran suatu objek. Ukuran parameter statistika dihitung dari data sampel atau populasi. Parameter statistika yang seiring digunakan dalam analisis statistika adalah rata-rata, varian atau deviasi standar, dan korelasi.

Rata-rata adalah nilai yang dapat mewakili besaran dari objek yang diamati. Rata-rata dapat diartikan juga sebagai ukuran data yang mendominasi dari seluruh data. Dalam komputasinya, rata-rata dapat ditentukan dengan cara nilai tengah, dan nilainya dihitung dengan cara rata-rata hitung, median, dan modus. Ketiga ukuran tersebut mempunyai sift-sifat tersediri yang tergantung dari jenis penyebaran data. Jika penyebaran data mempunyai distribusi frekuensi yang simetris terhadap rata-rata, maka nilai dari ketiga nilai tengah adalah sama.

Varian merupakan pengukuran variasi sekitar mean. Varian diberikan oleh suatu nilai yang menunjukkan tingkat variabilitas perbedaan data. Karena nilai rata-rata sering kali belum dapat memberikan cukup informasi yang tepat mengenai parameter rata-rata sebagai nilai tengah, maka diperlukan adanya ukuran tingkat variabilitas data tersebut.

Korelasi adalah suatu nilai yang menyatakan hubungan antar variabel. Jika dua variabel mempunyai korelasi, maka kedua variabel random yang tidak saling bebas. Ukuran erat tidaknya hubungan antra dua variabel ditunjukkan oleh koefisien korelasi. Dengan dikethuinya koefisien korelasi, maka dapat diketahui tingkat hubungan antara satu variabel dengan variabel lain.

Statistik Nonparametrik PDF Print E-mail
Written by Raymond Tambunan
Dalam perkembangan psikologi sebagai ilmu, dalam masa yang sangat panjang, bahkan sampai hari ini, psikologi berusaha agar dapat dipandang sebagai pendekatan yang ilmiah. Dalam atmosfer positivistik, salah satu usaha untuk menjadi lebih ilmiah adalah dengan melakukan pengukuran. Artinya, kualitas-kualitas psikologis manusia dicoba untuk diberikan atribut berupa angka, untuk kemudian diolah secara matematis / statistik.Namun tidak semua kondisi dalam pengukuran psikologi ideal untuk diterapkan pada semua teknik statistik, seperti:

  • banyak aspek psikologis yang sulit dikuantifisir ke dalam skala pengukuran interval apalagi rasio (sulit untuk mengatakan, misalnya, sikap terhadap minuman beralkohol seseorang / sekelompok orang dua kali lebih tinggi dibandingkan orang / kelompok lain);
  • sulit mengasumsikan bahwa variabel psikologis tertentu terdistribusi secara normal.

Oleh karena itu, metode statistik nonparametrik dianggap dapat lebih menjawab kebutuhan dan sesuai dengan kondisi dalam ilmu piskologi.

Namun sebelum membahas tentang metode statistik nonparametrik, terlebih dahulu perlu dipahami tentang apa itu parametrik.

Parametrik

Parametrik mengandung pengertian parameter, yaitu indikator dari suatu distribusi hasil pengukuran. Indikator dari distribusi pengukuran berdasarkan statistik parametrik digunakan untuk menjadi parameter dari distribusi normal.

Distribusi normal, atau dikenal juga dengan istilah Gaussian Distribution, mengandung dua parameter, yaitu mean (m) dan varians (s2). Parameter-parameter ini memberikan karakteristik yang unik pada suatu distribusi berdasarkan “lokasi”-nya (central tendency), dan sebagai metode statistik, mendasarkan perhitungannya juga pada kedua parameter tersebut.

Dari penjelasan singkat ini tampak bahwa penggunaan metode statistik parametrik mengikuti prinsip-prinsip distribusi normal (lihat di wikipedia untuk penjelasan lebih lanjut).

Konsekuensi dari pengertian ini, maka penerapan statistik parametrik perlu memperhatikan hal-hal berikut.

  • Distribusi dari suatu sampel yang dijadikan obyek pengukuran berasal dari distribusi populasi yang bisa diasumsikan terdistribusi secara normal.
  • Sampel diperoleh secara random, dengan jumlah yang dianggap dapat mewakili populasi.
  • Distribusi normal merupakan bagian dari continuous probability distribution, sehingga skala pengukurannya pun haruslah kontinyu (rasio atau interval) atau skala nominal yang diubah menjadi proporsi (hanya bisa diolah menggunakan chi-square).

Bila syarat-syarat ini semua terpenuhi, maka baru dapat diterapkan metode statistik parametrik.

Nonparametrik

Istilah nonparametrik sendiri pertama kali digunakan oleh Wolfowitz, 1942. Istilah lain yang sering digunakan antara lain distribution-free statistics dan assumption-free test. Dari istilah-istilah ini, dengan mudah terlihat bahwa metode statistik nonparametrik merupakan metode statistik yang dapat digunakan dengan mengabaikan segala asumsi yang melandasi metode statistik parametrik, terutama yang berkaitan dengan distribusi normal.

Kapan digunakan metode statistik nonparametrik? Dari pengertian sebelumnya, dengan sederhana dapat dikatakan metode pengujian ini digunakan bila salah satu parameter statistik parametrik tidak terpenuhi (lihat bagan alur berikut).

skemanonpar.jpg


























Teknik statistik nonparametrik

Ada banyak teknik statistik pada metode nonparametrik.

Untuk menentukan teknik statistik yang tepat, secara sederhana dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Apa tujuan pengujian tersebut? [menggambarkan, menguji perbedaan, korelasi, dan sebagainya]
  • Bila untuk menguji perbedaan, ada berapa kelompok sampel yang akan diuji? [satu, dua, atau lebih dari dua]
  • Bila untuk menguji perbedaan, apakah kelompok berasal dari satu populasi yang sama (atau dapat dibuat berpasangan), atau kelompok-kelompok yang saling independen?
  • Apa skala pengukurannya? [nominal atau ordinal]

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan dasar untuk menentukan teknik statistik nonparametrik yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi data. Namun untuk tingkatan yang lebih lanjut, perlu diperhatikan juga power dari masing-masing teknik, disesuaikan dengan kondisi data yang lebih spesifik.

Isi tabel berikut adalah beberapa teknik statistik nonparametrik yang lazim digunakan, dengan membandingkan dengan teknik statistik parametrik.

TUJUAN JENIS DATA
Pengukuran dari populasi Gaussian Skala ordinal atau pengukuran Non Gaussian Binomial
Deskripsi satu kelompok Mean, SD Median, interquartile range Proportion
Membandingkan satu kelompok dengan nilai hipotetis One-sample t test Wilcoxon test Chi-square
atau
Binomial test
Membandingkan dua kelompok tidak berpasangan Unpaired t test Mann-Whitney test Fisher’s test
(chi-square untuk sampel besar)
Membandingkan dua kelompok berpasangan Paired t test Wilcoxon test McNemar’s test
Membandingkan lebih dari dua kelompok tidak berpasangan One-way ANOVA Kruskal-Wallis test Chi-square test
Membandingkan lebih dari dua kelompok berpasangan Repeated-measures ANOVA Friedman test Cochrane Q
Korelasi Pearson correlation Spearman correlation Contingency coefficients
Prediksi dengan pengukuran variabel lain Simple linear regression
or
Nonlinear regression
Nonparametric regression Simple logistic regression
Prediksi dari beberapa pengukuran atau variabel binomial Multiple linear regression
or
Multiple nonlinear regression

Pengertian Bauran Pemasaran [Marketing Mix] :

“Marketing mix is the set of marketing tools that the firm uses to pursue its marketing objectives in the market.”(Marketing Management,1997) yang kurang lebih memiliki arti bauran pemasaran adalah kumpulan dari variabel-variabel pemasaran yang dapat dikendalikan yang digunakan oleh suatu badan usaha untuk mencapai tujuan pemasaran dalam pasar sasaran.
Menurut Kotler (1997:92), Marketing mix is the set of marketing tools that the firm uses to pursue its marketing objectives in the target market. yang kurang lebih memiliki arti bahwa bauran pemasaran adalah sejumlah alat-alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk menyakinkan obyek pemasaran atau target pasar yang dituju.

Menurut Stanton (1978) Bauran pemasaran (marketing mix) adalah kombinasi dari 4 variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan yaitu produk, harga, kegiafan promosi dan sistem distribusi.

Ada banyak alat pemasaran, McCarthy mempopulerkan pembagian kiat pemasaran ke dalam 4 (empat) faktor yang disebut the four Ps: product, price, place, and promotion” (cited in Kotler, 1992:92).

Keempat bauran pemasaran tersebut secara singkat dijelaskan sebagai berikut:
1. Product (produk) adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada masyarakat untuk dilihat, dipegang, dibeli atau dikonsumsi. Produk dapat terdiri dari product variety, quality, design, feature, brand name, packaging, sizes, services, warranties, and returns.
2. Price (harga), yaitu sejumlah uang yang konsumen bayar untuk membeli produk atau mengganti hal milik produk. Harga meliputi last price, discount, allowance, payment period, credit terms, and retail price.
3. Place (tempat), yaitu berbagai kegiatan perusahaan untuk membuat produk yang dihasilkan/dijual terjangkau dan tersedia bagi pasar sasaran. Tempat meliputi antara lain channels, coverage, assortments, locations, inventory, and transport.
4. Promotion (promosi), yaitu berbagai kegiatan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan memperkenalkan produk pada pasar sasaran. Variabel promosi meliputi antara lain sales promotion, advertising, sales force, public relation, and direct marketing.
variabel promosi atau yang lazim disebut bauran komunikasi pemasaran (Koter, 1997:604):
a. Advertising, yaitu semua bentuk presentasi nonpersonal dan promosi ide, barang, atau jasa oleh sponsor yang ditunjuk dengan mendapat bayaran.
b. Sales promotion, yaitu insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau pembelian produk dan jasa.

c. Public relations and publicity, yaitu berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan dan/atau melindungi citra perusahaan atau produk individual yang dihasilkan.
d. Personal selling, yaitu interaksi langsung antara satu atau lebih calon pembeli dengan tujuan melakukan penjualan.
e. Direct marketing, yaitu melakukan komunikasi pemasaran secara langsung untuk mendapatkan respon dari pelanggan dan calon tertentu, yang dapat dilakukan dengan menggunakan surat, telepon, dan alat penghubung nonpersonal lain.

Evolusi Faktor Bauran Pemasaran [ Marketing Mix]

Bauran pemasaran yang terdiri dari product, price, place, dan promotion (4P) seiring perkembangan jaman dan tuntutan pasar yang senantiasa mengalami perkembangan telah mengalami evolusi dan terus berkembang searah dengan perkembangan perilaku konsumen dan kecerdasan para ahli pemasaran. Lovelock dan Wright (2002:13-15) mengembangkan bauran pemasaran (marketing mix) menjadi integrated service management dengan menggunakan pendekatan 8Ps, yaitu:

product elements, place, cyberspace, and time, promotion and education, price and other user outlays, process, productivity and quality, people, and physical evidence.

1. Product elements adalah semua komponen dari kinerja layanan yang menciptakan nilai bagi pelanggan.
2. Place, cyberspace, and time adalah keputusan manajemen mengenai kapan, dimana, dan bagaimana menyajikan layanan yang baik kepada pelanggan.
3. Promotion and education adalah semua aktivitas komunikasi dan perancangan insentif untuk membangun persepsi pelanggan yang dikehendaki perusahaan atas layanan spesifik yang perusahaan berikan.

4. Price and other user outlays adalah pengeluaran uang, waktu, dan usaha yang pelanggan korbankan dalam membeli dan mengkonsumi produk dan layanan yang perusahaan tawarkan atau sajikan.
5. Process adalah suatu metode pengoperasian atau serangkaian tindakan yang diperlukan untuk menyajikan produk dan layanan yang baik kepada pelanggan
6. Productivity and quality, produktivitas adalah sejauhmana efisiensi masukan-masukan layanan ditransformasikan ke dalam hasil-hasil layanan yang dapat menambah nilai bagi pelanggan, sedangkan kualitas adalah derajat suatu layanan yang dapat memuaskan pelanggan karena dapat memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan.
7. People adalah pelanggan dan karyawan yang terlibat dalam kegiatan memproduksi produk dan layanan (service production).

8. Physical evidence adalah perangkat-perangkat yang diperlukan dalam menyajikan secara nyata kualitas produk dan layanan.

UKURAN STATISTIK

Rata-Rata Tertimbang (Weighted Mean)

Dalam beberapa kasus setiap nilai diberi beban, misalnya pada kasus perhitungan Indeks Prestasi, Nilai Penjualan Barang, dll

Di mana            :      rata-rata tertimbang

:       beban ke-i

:       data ke-i

n :        banyak data

Contoh 1 :

Berikut adalah Transkrip Akademik seorang mahasiswa

Mata Kuliah Nilai Mutu Angka Mutu () SKS ()
Pancasila B 3 2 6
Teori Ekonomi A 4 4 16
Bahasa Inggris C 2 3 6
Manajemen A 4 3 12
S 14 12 40

Indeks Prestasi =  =  = 3.33

Rata-Rata Geometrik (Geometric Mean)

Rata-rata geometrik digunakan untuk menghitung rata-rata laju pertumbuhan (growth rate), misalnya : pertumbuhan penduduk, penjualan, tingkat bunga dll.

atau

ingat                 G = antilog (log G)

Di mana            G          : rata-rata geometrik

:           data ke-i

n         :           banyak data

Contoh 2 :

Data pertumbuhan suku bunga dalam 5 hari kerja :

1.5        2.3        3.4        1.2        2.5        %

=

=

=

=   = 0.30928….

G          = antilog  0.30928… =  2.03837….

Bandingkan dengan rata-rata hitung

= =  = 2.18

UKURAN  PENYEBARAN

1          Ragam = Varians (Variance) dan Simpangan Baku = Standar Deviasi (Standard Deviation)

a.         Ragam dan Simpangan Baku untuk Ungrouped Data

POPULASI :

atau

dan

SAMPEL :

atau

dan

:       data ke-i

m  :       rata-rata populasi                                   :        rata-rata sampel

s²:        ragam populasi                          s²:         ragam sampel

s :        simpangan baku populasi            s :         simpangan baku

sampel

N :        ukuran populasi                         n :         ukuran sampel

Contoh 3 :

Data Usia 5 mahasiswa :           18         19         20         21         22         tahun

a.         Hitunglah          m, s² dan s       (anggap data sebagai data     populasi)

b.         Hitunglah          , s²  dan s      (data adalah data sampel)

Jawab :

m atau (-m)  atau (-) (-m)²  atau (-)²
18 20 -2 4 324
19 20 -1 1 361
20 20 0 0 400
21 20 1 1 441
22 20 2 4 484
S 100 —— ——- 10 2010

POPULASI :

N = 5                             = 20

= = 2

= =2

== 1.414…

SAMPEL :

n = 5         = 2 == 2.5

= = 2.5

= =1.581…

b.         Ragam dan Simpangan Baku untuk Grouped Data

POPULASI :

dan

SAMPEL :

dan

:       Titik Tengah Kelas ke-i

:       frekuensi kelas ke-i

k  :        banyak kelas

:        rata-rata sampel

m  :       rata-rata populasi

s²:        ragam populasi

s²:         ragam sampel

s :        simpangan baku populasi

s :         simpangan baku sampel

N :        ukuran populasi

n :         ukuran sampel

Contoh 4 :

Rata -Rata (m atau)  =  = 33.58

Kelas TTK Frek. m atau (-m)  atau (-) (-m)²  atau (-)² (-m)²  atau(-)²
16 – 23 19.5 10 195 33.58 -14.08 198.2464 1982.4640
24 – 31 27.5 17 467.5 33.58 -6.08 36.9664 628.4288
32 – 39 35.5 7 248.5 33.58 1.92 3.6864 25.8048
40 – 47 43.5 10 435 33.58 9.92 98.4064 984.0640
48 – 55 51.5 3 154.5 33.58 17.92 321.1264 963.3792
56 – 63 59.5 3 178.5 33.58 25.92 671.8464 2015.5392
S —– 50 1679 —- ———- ———– 6599.68

POPULASI :    N = 50

= = 131.9936

=  = 11.4888….

SAMPEL :

=  = 134.6873….

=  = 11.6054….

2          Koefisien Ragam

Koefisien Ragam = Koefisien Varians

Semakin besar nilai Koefisien Ragam maka data semakin bervariasi, keragamannya data makin tinggi.

Untuk Populasi ®Koefisien Ragam =

Untuk Sampel               ®Koefisien Ragam =

Contoh :

= 33.58                    s = 11.6054

Koefisien Ragam =

=       = 34.56 %

3          Angka  Baku (z-score)

  • Angka baku adalah ukuran penyimpangan data dari rata-rata populasi .
  • z dapat bernilai nol (0), positif (+) atau negatif (-)
  • z nol             ®        data bernilai sama dengan rata-rata populasi
  • z positif        ®        data bernilai di atas rata-rata populasi
  • z negatif       ®        data bernilai di bawah rata-rata populasi

z : Angka baku

x : nilai data

m: rata-rata populasi

s : simpangan baku populasi

Contoh  5 :

Rata-rata kecepatan lari atlet nasional = 20 km/jam dengan simpangan baku = 2.5 km

Hitung angka baku untuk kecepatan lari :

a.         Ali = 25 km/jam             b.         Didi = 18 km/jam

Jawab :            a. == 2

b. == -0.8

  1. I. LATAR BELAKANG SEJARAH NILAI DAN FUNGSI FILSAFAT

Budaya dan peradaban umat manusia berawal dan berpuncak dengan nilai-nilai filsafat yang dikembangkan dan ditegakkan sebagai sistem ideologi. Maknanya nilai filsafat sebagai jangkauan tertinggi pemikiran untuk menemukan hakekat kebenaran ( kebenaran hakiki; karenanya dijadikan filsafat hidup, pandangan hidup, (Weltanschauung); sekaligus memancarkan jiwa bangsa, jatidiri bangsa (Volksgeist) dan martabat nasional !.

Integritas filsafat Pancasila terjabar sebagai Sistem Kenegaraan Pancasila dengan visi-misi sebagai diamanatkan dalam UUD Proklamasi 45.

Menegakkan integritas sistem kenegaraan Pancasila-UUD Proklamasi 45 adalah pembudayaan filsafat Pancasila dan ideologi nasional Indonesia Raya!

A.  Makna, Sejarah, dan Fungsi Filsafat

Istilah filsafat secara etymologis terbentuk dari kata bahasa Yunani: filos dan sophia. Filos = friend, love; sophia = learning, wisdom. Jadi, makna filsafat = (orang) yang bersahabat dan mencintai ilmu pengetahuan, serta bersikap arif bijaksana. Karena itulah diakui orang belajar filsafat berarti mencari kebenaran sedalam-dalamnya, kemudian menghasilkan sikap hidup arif bijaksana. Demikian pula para pemikir filsafat (filosof) dianggap manusia berilmu dan bijaksana.

Sesungguhnya nilai ajaran filsafat telah berkembang, terutama di wilayah Timur Tengah sejak sekitar 6000 – 600 SM; juga di Mesir dan sekitar sungai Tigris dan Eufrat sekitar 5000 – 1000 sM; daerah Palestina/Israel sebagai doktrine Yahudi sekitar 4000 – 1000 SM (Radhakrishnan, et al. 1953: 11; Avey 1961:  3-7). Juga di India sekitar 3000 – 1000 SM, sebagaimana juga di Cina sekitar 3000 – 500 SM.

Nilai filsafat berwujud kebenaran sedalam-dalamnya, bersifat fundamental, universal dan hakiki; karenanya dijadikan filsafat hidup oleh pemikir dan penganutnya.

Sedangkan pemikiran filsafat yang dianggap tertua di Eropa (Yunani) baru berkembang sekitar 650 SM. Jadi, pemikiran filsafat tertua bersumber dari wilayah Timur Tengah; sinergis dengan ajaran nilai religious. Fenomena demikian merupakan data sejarah budaya sebagai peradaban monumental, karena Timur Tengah diakui sebagai pusat berkembangnya ajaran agama supranatural (agama wahyu, revealation religions). Kita juga maklum, bahwa semua Nabi/Rasul berasal dari wilayah Timur Tengah (Yahudi, Kristen dan Islam). Berdasarkan data demikian kita percaya bahwa nilai filsafat sinergis dengan nilai-nilai theisme religious. Karena itu pula, kami menyatakan bahwa nilai filsafat Timur Tengah dianggap sebagai sumur madu peradaban umat manusia karena kualitas dan integritas intrinsiknya yang fundamental-universal theisme religious.

Nilai ajaran filsafat Barat (Eropa, Yunani) adalah nilai filsafat natural dan rasional (ipteks); karenanya dianggap sebagai sumur susu peradaban. Makna uraian di atas: manusia atau bangsa yang ingin sehat dan jaya, hendaknya memadukan nilai theisme religious dengan ipteks; sebagaimana pribadi manusia yang ingin sehat minumlah susu dengan madu. Artinya, budaya dan peradaban yang luhur dan unggul akan berkembang berdasarkan nilai-nilai (moral) agama dan ipteks.

Budaya dan peradaban modern mengakui bahwa perkembangan ipteks dan kebudayaan manusia bersumber dan dilandasi oleh ajaran nilai filsafat. Karena itu pula, filsafat diakui sebagai induk ipteks (= philosophy as the queen and as the mother of knowledge as well). Nilai filsafat menjangkau alam metafisika dan misteri alam semesta; visi-misi penciptaan manusia. Alam semesta dengan hukum alam memancarkan nilai supranatural dan suprarasional sebagaimana rokhani manusia dan martabat budinuraninya juga memancarkan integritas suprarasional!

Sistem filsafat dan cabang-cabangnya — termasuk sistem ideologi— dalam kepustakaan modern diakui sebagai Kultuurwissenschaft, dan atau Geistesswissenschaft (terutama filsafat hukum, filsafat politik, filsafat manusia, filsafat ilmu, filsafat ekonomi dan filsafat etika).

Sedemikian besar dan dominan pengaruh ajaran sistem filsafat dan atau ideologi dimaksud terlukis dalam skema 1, dalam makna : lingkaran global menunjukkan supremasi nilai filsafat religious yang bersumber dari Timur Tengah yang memberikan martabat moral kepribadian manusia secara universal!

SUMBER DAN PUSAT PERKEMBANGAN FILSAFAT

Pusat Pengembangan Moral dan Ipteks dalam Wawasan Filsafat

skema 1                                   (MNS, 1980)

B. Ajaran Sistem Filsafat sebagai Sistem Ideologi : tegak sebagai Sistem Kenegaraan.

Ajaran berbagai nilai filsafat — sebelum berkembang sebagai sistem ideologi!— terutama menampilkan nilai fundamental sebagai essensi dan integritas ajarannya; berupa ajaran : materialisme, animisme, dynamisme, polytheisme, pantheisme, secularisme, dan atheisme …. yang berpuncak sebagai ajaran monotheisme, universalisme — sering disamakan sebagai sistem filsafat : theisme-religious —. Peradaban modern menyaksikan, bahwa sistem filsafat Pancasila memancarkan identitas dan integritas martabatnya sebagai sistem filsafat monotheisme-religious!. Integritas ini secara fundamental dan intrinsik memancarkan keunggulan sistem filsafat Pancasila sebagai bagian dari sistem filsafat Timur (yang berwatak : theisme-religious).

Ajaran dan nilai filsafat amat mempengaruhi pikiran, budaya dan peradaban umat manusia. Semua sistem kenegaraan ditegakkan berdasarkan ajaran atau sistem filsafat yang mereka anut (sebagai dasar negara, ideologi negara). Berbagai negara modern menunjukkan keunggulan masing-masing, dan terus memperjuangkan supremasi dan dominasi sistem kenegaraannya: liberalisme-kapitalisme, marxisme-komunisme, zionisme, theokratisme; sosialisme, naziisme, fascisme, fundamentalisme. Juga termasuk negara berdasarkan (nilai ajaran) agama: negara Islam ….. termasuk sistem ideologi Pancasila (=sistem kenegaraan Pancasila sebagai terjabar dalam UUD Proklamasi 45). Bangsa Indonesia menegakkan sistem kenegaraan Pancasila-UUD Proklamasi 45 sebagai aktualisasi filsafat hidup (Weltsanschauung) yang diamanatkan oleh PPKI sebagai pendiri negara!.

Secara ontologis, epistemologis dan axiologis sistem filsafat Pancasila mengandung ajaran tentang potensi dan martabat kepribadian manusia (SDM) yang dianugerahi martabat mulia sebagaimana terjabar dalam ajaran HAM berdasarkan filsafat Pancasila ! Keunggulan dan kemuliaan ini merupakan anugerah dan amanat Tuhan Yang Maha Esa, Allah Yang Maha Kuasa, Maha Rahman dan Maha Rahim — sebagai tersurat di dalam Pembukaan UUD Proklamasi 45 ! — sebagai asas kerokhanian bangsa dan NKRI.

Sesungguhnya ajaran filsafat merupakan sumber, landasan dan identitas tatanan atau sistem nilai kehidupan umat manusia. Sedemikian berkembang, maka khasanah ajaran nilai filsafat kuantitati-kualitatif terus meningkat; terbukti dengan berbagai aliran (sistem) filsafat yang memberikan identitas berbagai sistem budaya, sistem kenegaraan dan peradaban bangsa-bangsa modern.

Nilai-nilai filsafat, termasuk filsafat Pancasila ditegakkan (dan dibudayakan) dalam peradaban manusia modern —khususnya bangsa Indonesia, — terutama :

  1. Aktualisasi Integritas Sistem Kenegaraan Pancasila-UUD Proklamasi 45;
  2. Aktualisasi nilai kebangsaan dan kenegaraan Indonesia Raya, sebagai terlukis dalam skema 3 dan 4;
  3. Secara ontologis-axiologis bangsa Indonesia belum secara signifikan melaksanakan visi-misi yang diamanatkan oleh sistem filsafat Pancasila, sebagaimana terjabar dalam UUD Proklamasi 45 —terutama dalam era reformasi 1998 – sekarang

Dalam dinamika peradaban modern, semua bangsa berkembang dan menegakkan tatanan kehidupan nasionalnya dengan sistem kenegaraan. Sistem kenegaraan ini dijiwai, dilandasi dan dipandu oleh sistem filsafat dan atau sistem ideologi; seperti : theokratisme, sistem liberalisme-kapitalisme, sosialisme, zionisme; marxisme-komunisme-atheisme, naziisme, fascisme, fundamentalisme …. dan sistem ideologi Pancasila!